CEO (Pesantren) yang Menyamar

Ada dua tipe tamu di pesantren. Pertama, mereka yang langsung nyelonong masuk ke ndalem (rumah seorang kiai) dan disambut bak kawan lama oleh sang tuan rumah. Yang demikian adalah tipe “orang dalam” atau ordal, dalam artian sudah punya relasi yang terjalin dengan kiai.

Kedua, mereka yang mesti bertanya dulu kepada seorang santri tentang ada atau tidaknya kiai di ndalem. Mereka akan pergi jika si santri menjawab “tidak” dan disilakan masuk jika si santri menjawab “iya”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mereka adalah tipe tamu yang, walaupun kenalan dekat kiai, tapi masih menganggap penting berbasa-basi. Bisa juga tamu yang tak punya relasi dekat dengan kiai sehingga meminta konfirmasi secara prosedural adalah hal yang sepatutnya dilakukan.

Atau, seperti yang akan kita lihat pada tokoh kita berikut ini: tipe ketiga adalah mereka yang belum pernah bertemu dengan si tuan rumah sama sekali. Tokoh kita bahkan belum pernah mendengar suara atau melihat wajah si kiai. Baik langsung atau dari televisi.

“Assalamualaikum, Kang, bisa bertemu Pak Kiai?” katanya saat sudah sampai di area pesantren.

“Kang” adalah sebutan bagi santri putra, sedangkan “Mbak” bagi santri putri. Yang demikian sudah sangat umum di pesantren-pesantren di Pulau Jawa.

Lelaki yang dipanggil “Kang” itu sedang menyapu. Dengan wajah yang sudah sangat tua, bisa diprediksi bahwa dia adalah seorang santri senior di pesantren itu. Artefak pesantren, begitu kira-kira bahasa arkeologinya. Dan itu membuat tokoh kita agak prihatin karena jika seorang santri setua itu masih bermukim di pesantren, berarti selama umurnya itu pula belum pernah dicicipinya kebutuhan batin dan zahir dengan seorang yang disebut “istri”.

Sembari berjalan ke arah ndalem, tokoh kita ini berbasa-basi dulu, kemudian mengajak bersenda-gurau si santri, dan bilang bahwa pak kiai harusnya peka buat mencarikannya istri. Dan obrolan semacamnya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan