Seperti dukun merapalkan mantranya, ucapan Dani membiusku. Meski dengan perasaan jijik dan takut, akhirnya kucemplungkan juga kaki dan kutundukkan kepalaku. Bau pesing langsung menguar sehingga kututup hidung, jongkok, dan beringsut maju perlahan ditelan kegelapan.
”Ayo, lebih cepat!” seraya mendorongku untuk masuk lebih dalam, Dani berbisik, ”Jangan sampai komplotan Pendi itu mengendus keberadaan kita.”

Aku mengangguk dan beringsut lebih cepat. Air kian dalam dan bau. Kurasa sesuatu mengerayangi kepalaku. Mungkin laba-laba berikut sarangnya. Entahlah. Aku tidak mau berpikir lebih jauh tentang itu.
***
”Santri dilarang pulang dan keluar pesantren dengan alasan apa pun.”
Tulisan itu terpampang di pintu masuk kantor pesantren sejak tiga hari lalu. Selama itu pula kami menahan diri untuk tidak keluar pesantren, baik secara resmi atau dengan cara melanggar aturan. Namun kami rasa pengurus masih belum puas dengan menaruh kertas berisi larangan seperti itu. Sebab, kemarin malam mereka masih menyita waktu kami dengan pengumuman lisan di masjid.
Mungkin karena kini libur tahun baru yang bertepatan dengan konser Elis, artis asal daerah kami yang sedang naik daun dalam dunia perdangdutan. Tapi apalah daya, pengumuman itu tidak akan mempan bagi santri nakal seperti kami.
Dari desas-desus yang kudengar lewat mulut Dani, teman sekelasku, sebenarnya Pak Syamsul sudah mengusahakan—saat rapat pesantren—memperbolehkan santri pulang untuk menyegarkan pikiran dengan catatan dilarang nonton konser. Tapi Ustaz Arif, pengampu kitab Fathul Qarib di kelas kami, tidak setuju.
”Kamu tahu, kan, Pak, bahwa santri itu cerdiknya melebihi kancil dan licin seperti belut. Lalau mereka dibiarkan pulang, pasti mereka akan nonton Elis.”
Alasan Ustaz Arif itu sudah cukup membuat Pak Syamsul terdiam. Tapi beberapa pengurus lain masih bersikeras mendukung usulan itu. Jika itu benar-benar terjadi, maka betapa bodohnya jika pengurus menyetujui usulan Pak Syamsul itu. Akhirnya diadakan pemungutan suara, dan bisa ditebak kelompok Pak Syamsul-lah yang kalah.
Perkiraanku, mereka masih belum puas ’menjerat’ santri dengan larangan itu. Sebab, di setiap kegiatan belajar mengajar di pesantren, mereka masih menyinggung hal itu.
”Hukum melihat wajah perempuan yang bukan mahram tanpa ada keperluan itu tidak boleh, apalagi sampai melihat auratnya,” ucap Ustaz Zain, dalam pengajian kitab Syafinatun Najah kemarin sore.
Belum lagi tadi pagi, Ustaz Rahman, pengampu kitab Ta’lim Muta’allim itu, dengan tegas sembari melirik kami menjelaskan bahwa kita sebagai santri harus menjaga etika, akhlak, dan nama baik pesantren agar tidak tercemar. Contohnya, tidak menonton konser. Sudah jelas dia menyindir kami yang ingin nonton konser.
Menjelang sarapan pagi di kantin hingga saat masak di dapur, obrolan santri yang pernah nonton Elis sebelumnya dibahas tak sudah-sudah. Di mana-mana, santri berkumpul atau lebih tepatnya berdiskusi ngalor ngidul terkait penyanyi dangdut itu. Mereka menyampaikan bukan hanya suaranya yang merdu, tapi juga wajahnya yang cantik. Kaki putihnya yang jenjang dan pinggulnya yang aduhai eloknya. Lantas mereka terbahak setiap selesai bercerita menertawakan kami yang tidak pernah menonton langsung. Selain obrolan itu, yang tak kalah seru juga obrolan perihal cara kabur dari pesantren tanpa ketahuan pengurus. Khusus ini obrolan kami rapi dan senyap bagai para agen dalam film-film spoinise.
Sebenarnya aku ingin sekali keluar pesantren untuk nonton Elis, tapi aku takut. Bukan takut ditemukan bagian keamanan pondok dan dihukum membersihkan pondok selama satu bulan, tapi takut ditakzir plontos dan disuruh berlari keliling halaman pondok putri sembari berkalung tulisan ’Aku Melanggar’ tiga kali. Memang hukuman plontos lebih ringan dari membersihkan pondok. Tapi mau ditaruh di mana wajahku yang dikenal sebagai aktifis organisasi dan kolumnis majalah dinding pesantren, malah diplontos karena melanggar.
Fatimah, gadis yang kutaksir karena vinyet-vinyet senyum dan kepintarannya, bisa-bisa enggan menerimaku bila aku ditakzir. Poinku untuk mendapatkan hati dara asal pulau seberang itu akan turun seketika dan bisa diungguli santri lain. Oh, tidak, tidak bisa kubayangkan bila itu terjadi.
Tapi, ketakutanku mulai pudar saat Dani memberikan trik untuk pergi keluar pesantren pada malam itu. Sedangkan Aril berbagi ilmunya, apa yang perlu kita lakukan jika tertangkap petugas keamanan pondok. Malam itu, sekitar pukul sebelasan, di selatan masjid di bawah pohon mangga yang cukup gelap, kami bersiasat.
”Kalau kau tahu,” Aril berhenti berbisik sejenak, mengawasi sekeliling, ”Para Kamtib di sini bisa disuap jika kalian tahu apa yang mereka mau.” Kemudian kami pun saling pandang satu sama lain.
”Ripal, kau tahukan Pendi sudah semester akhir tapi dia tak tahu buat skripsi. Jadi gunakan otak kolumnismu itu untuk membujuknya. Dan, kau Sul, kau tahu rokok kesukaan Siddiq serta Busra, kan? Khusus mereka kau harus memberikan lebih karena mereka termasuk Kamtib yang alim, tidak mudah disogok.”
Aril menoleh kepadaku dan teman di sebelahku. Malam itu, Aril mengungkap satu per satu aib anggota Kamtib kami karena rata-rata merupakan teman seangkatannya. Entah mengapa dia tidak jadi Kamtib juga, padahal tubuhnya juga tak kalah besar.
***
Akhirnya, setelah beberapa menit yang kurasa seperti berjam-jam menyusuri gorong-gorong, kami menyembul di pinggir pesawahan warga sekitar pondok. Dengan segera, kulihat jam tanganku yang sedikit basah terkena air selokan tadi.
”Masih pukul setengah delapan, Dan,” ucapku pada Dani. Dia mengangguk dan kami meneruskan perjalanan dengan mengendap-endap di tengah sawah. Bulan sabit tertutup awan membuat malam itu temaram.
”Ayo San, jangan melamun!” ucapan Dani mengagetkanku. Aku masih ragu untuk pergi; bagaimana jika ketahuan. Selain mempermalukan nama pesantren, juga akan meruntuhkan semua reputasi yang selama ini kubangun sebagai santri yang terkenal di asrama putri. Tapi sudahlah, jika mengikuti trik Dani dan Aril, seharusnya aman.
Setelah berpacu dengan waktu dan lumpur persawahan, kami akhirnya sampai di desa tetangga. Dengan segera kami ganti sarung dan baju koko yang sudah bau selokan bercampur lumpur sawah dengan celana dan jaket, khas anak muda sekarang. Itulah rencana Dani, kami memang membawa baju ganti agar tidak terlalu mencolok di kerumunan konser nanti. Sarung dan baju koko kami tinggalkan di sebuah gubuk di pinggir sawah.
Kami terus berjalan, melewati jalan kecil pinggir sawah itu hingga sampai di jalan raya. Entah ini keberuntungan yang datang kepada orang yang melanggar, atau apa. Saat baru sampai di jalan raya dan berniat mencari tumpangan untuk ke kota, sebuah bus umum lewat. Langsung saja kami berempat ikut naik bus itu, sebuah keberuntungan bagi pelanggar seperti kami.
Di sepanjang perjalanan kepalaku dipenuhi kekhawatiran; wajah Siddiq dan Busra terbayang. Mereka teramsuk Kamtib yang sulit disuap, bagaimana jika aku bertemu mereka. Hingga satu jam lewat, bus kami berhenti di bundaran kota. Kami pun segera membayar dan turun. Di sana sudah ramai sekali orang yang datang ingin menyaksikan Elis. Kulihat acaranya baru saja dimulai.
”Ayo membaur ke tengah kerumunan agar tidak ketahuan Kamtib jika mereka ada di sini,” ajak Dani. Seperti sapi dicucuk hidungnya, kami pun ikut Dani.
Kekhawatiranku sejak di jalan tadi perlahan pudar saat kami berada di tengah-tengah ribuan manusia. Mustahil bagi Kamtib menemukan empat santri yang melanggar di tengah manusia sebanyak ini.
Lagu pertama dinyanyikan, kami melihat Elis naik ke panggung. Waah, benar kata teman-temanku, tidak hanya suaranya yang bagus, tapi badannya juga elok. Bagi santri seperti kami, ini menjadi euforia tersendiri. Melihat Elis bak seekor macan menemukan mangsanya. Kami pun bergoyang mengikuti irama dangdut yang mengalun itu.
Saat kami sedang asik bergoyang, tak terasa aku sudah jauh dari teman-teman. Badanku tersenggol tubuh seorang lelaki besar yang juga ikut bergoyang. Dia menoleh kepadaku. Aku menatap wajahnya. Aku takut dimarahi karena rasanya aku kenal wajah itu: Pendi!!
Aku panik ingin melarikan diri. Tapi herannya dia tidak menangkapku. Malah kulihat wajahnya juga panik, mematung menatap ke depan. Dengan segera kugunakan kesempatan itu untuk memberi tahu teman-teman untuk kabur.
Saat menemukan teman-temanku, mereka juga tampak mematung. Wajah mereka merah padam. Mata mereka mengarah ke depan. Maka aku membalikkan badan dan kulihat ke panggung. Di antara silau lampu sorot, Elis masih menyanyi dan bergoyang. Semuanya tampak biasa saja, kecuali dua orang yang bergoyang dengannya.
Sejenak kupicingkan mataku. Bedebah!! Ternyata perkiraanku salah; tidak ada Kamtib yang benar-benar suci. Hatiku bergejolak panas, samar-samar kukenal wajah itu. Ya, benar itu mereka: Siddiq dan Busra.
Cuiiih! Aku mengumpat dalam hati.
Sumber ilustrasi: pinterest.
