Ujian tidak selalu bersuara. Sering ia tanpa simbol tanda tanya, tetapi di belakang titik-titik menunggunya. Menunggu untuk dijawab atau sekadar dilewati. Kadang ia datang diam-diam. Mengetuk pelan. Lalu tinggal lama di dada.
Seperti luka. Ada yang kadang tidak berdarah, namun menyisakan lebam-luka dalam, yang jauh lebih sakit. Yang terluka, sering juga harus tanpa tangis. Untuk menunjuk-jelaskan bahwa ia terluka. Cukup meringis bahkan diam. Diamnya tidak tenang, karena luka menyayatnya pelan-pelan. Lukanya nyata menetap. Tragis dan lebih menyakitkan.

Sebab, seringkali ada luka yang justru tidak diwakilkan kepada air mata atau pilunya tangisan. Ia tinggal di dada. Lukanya berulang tanpa suara. Mengendap, menghela bersama napas yang tersengal. Pengap dan sesak. Seolah, tubuh yang terluka, harus belajar menerima agar menjadi terbiasa. Bahwa, tidak semua yang terluka, harus diratapi dengan gaduh, meski sebenarnya jiwanya rapuh-mengaduh.
Mengadu-aduh pun percuma. Alasan hidup yang memang meminta banyak. Tetapi, seorang Nur harus menahan. Nur hanya ingin cukup. Bahkan kata cukup pun, Nur merasa jauh dari lubuk. Nur tak berani bermimpi. Meski, mimpi itu gratis. Dan memperbolehkan bermimpi setinggi-tingginya. Ada hal yang membuat Nur menjadi pengecut. Takut bermimpi.
Untuk sebuah pagi, Nur bangun tanpa mimpi. Jika pun ada, mimpi itu ditepisnya, selayak kabut tipis yang menggantung. Mengurai tetes-tetes embun yang menempel di daun-daun bayam. Merasa sedikit terbebani, daun-daun bayam sedikit menunduk. Langit menggantungkan fajar. Sedikit kelam, enggan untuk menapak cerah. Nur, perlahan bergegas, mengikat daun-daun bayamnya. Tubuhnya menggigil, karena hawa dingin yang menyusup tanpa izin. Nur menengadah. Kabut tipis turun kembali seperti doa yang belum diijabah.
Beberapa ikat daun bayam, kangkung, dan cabai yang dibungkus pada kresek-kresek kecil, telah dipersiapkan. Siap dijajakan. Nur menaruhnya dalam wadah lalu mengikatnya erat pada jok sepeda yang penuh robekan. Nur pun bersiap. Sepeda motor tua-butut, tinggalan bapaknya, ia tuntun ke luar rumah. Ia berusaha pelan, nyaris tanpa suara. Sepertinya, Nur tidak ingin membangunkan kesedihan dan takdirnya sendiri. Langkah kakinya berat, karena harus menopang beban sekaligus. Beban sayur, berat sepeda motor, dan beban di dadanya.
