“Kang, sampeyan kenapa?” tanya Nur memecah. Mencoba berakrab dengan suaminya. Alasan senyumnya yang pertama.
“Tidak! Aku tidak apa-apa!” jawab Slamet singkat. Tidak apa-apa, namun jelas ia tidak baik-baik saja.

Tekanan ekonomi datang bersamaan dengan luka batin. Slamet kehilangan semangat hidup, untuk mengejar kata cukup yang diidamkan Nur.
“Nur, aku tidak lagi nguli.”
“Loh, kenapa Kang?”
“Pak Udin menawariku pekerjaan.”
“Pekerjaan apa?” tanya Nur.
“Memperbaiki tabung elpiji. Elpiji yang rusak aku perbaiki, dicat ulang, lalu disetor ke Pak Udin,” Slamet menjelaskan alasannya.
“Iya, Kang, tidak apa-apa. Yang penting halal, tidak mencuri.”
“Hah! Kau tidak percaya padaku, Nur!” tiba-tiba nada Slamet meninggi. Nur menunduk. Ia tidak tahu kesalahan kata-katanya di mana.
Nur pun mengangguk. Takut nada Slamet lebih tinggi lagi. Ia hanya mengangguk.
Setelah itu, hari-hari menjadi tegang. Diam yang panjang. Tatapan yang menghindar. Slamet dengan pekerjaan barunya dan Nur yang tetap berdagang sayur di pasar.
Kebenaran datang pelan-perlahan. Siang yang terik, memberi pertanda. Nur yang tengah memanen sayur, dikejutkan suara beberapa pemuda desa yang mendatangi rumahnya.
“Bu Nur, Pak Slametnya ada?” tanya salah satu pemuda.
Dilihatnya beberapa pemuda desa, wajahnya serius, seperti ada yang ingin diungkapkan, namun sungkan.
“Iya, ada, sebentar, saya panggilkan,” Nur bergegas masuk memanggil Slamet.
Dilihatnya Slamet berbicara dengan beberapa pemuda di ruang tamunya yang sempit.
Nur tidak begitu jelas yang dibicarakan. Terlihat Slamet gelisah. Mereka berbicara pelan. Nada suara mereka berat. Tangan Slamet gemetar. Sejenak, Slamet mendatangi Nur di kamarnya.
“Nur, sebentar aku buatkan kopi untuk tamu di dapur.”
Nur menatapnya dari belakang. Kenyataannya, punggung Slamet hari itu adalah yang terakhir dilihatnya. Ia kabur lewat belakang rumah. Minggat! Tidak kembali.
“Bu Nur, ngapunten. Banyak tabung elpiji di kampung hilang. Kita di sini hanya ingin menanyai Pak Slamet, sebatas kecurigaan saja.”
Tubuh Nur lemas. Ternyata, tabung-tabung elpiji itu bukan sekadar barang. Ia adalah tekanan. Ia adalah dosa. Ia adalah pilihan yang lahir dari putus asa. Dan Nur harus menanggung sisa ledakannya. Tabung-tabung itu adalah curian, bukan pesanan seperti yang Slamet katakan.
Pemuda-pemuda desa berlarian mengejarnya setelah mengetahui kalau Slamet kabur.
Salah satu pemuda bertanya kepada Nur, kevmana suaminya kabur? Nur diam mematung. Tetap duduk diam. Kakinya lemas. Tatapannya gelap. Kosong. Lukanya semakin menganga. Karena sesuatu yang paling dalam telah sirna. Sisa satu alasan senyum terakhirnya hilang.
Pagi berikutnya, Nur kembali ke pasar. Langkahnya sama. Wajahnya sama. Tapi, batinnya sekian kali lebih hancur. Jiwanya lama pergi. Yang tersisa hanya tubuh yang bergerak dan hati yang telah selesai merasa. Nur tetap tak berani berharap. Tak ada senyum. Hanya hidup, yang terus berjalan dan menahan. Senyum terakhirnya hilang. Ia tidak lagi tahu mencari apa. Luka yang paling dalam. Masih bernapas, tetapi sudah tidak lagi menunggu apa pun. Tanpa rasa.
Berlalu. Nur tetap seperti dulu. Melupakan dua senyumnya yang hilang? Tidak! Ia tetap mengingatnya. Hanya berusaha mengabur-kuburkannya. Tetap berdagang ke pasar, tetap datar, tetap tanpa senyuman. Ia sering menikmati kesendirian dalam diam.
Tok..tok..tok! Terdengar ketukan dari pintu belakang, di tengah malam. Nur tidak takut, ia mendekat perlahan. Tanpa menerka atau hati yang bertanya. Jika ketakutan adalah rasa, maka rasa itu telah hampa. Nur membuka pintu belakang.
“Kang?!”
Sumber ilustrasi: pinterest.
