“Rezeki sepi, ya, Nur,” Slamet mencoba membuka obrolan.
Nur menatap sekilas. Tanpa menjawab. Hanya mengangguk.

Slamet meneruskan.
“Yo wis ben, tidak apa-apa ya, Nur. Sedikit tapi halal, tidak nyolong,” hibur Slamet.
“Bagaimana kalau aku nyolong hatimu, Nur? Boleh apa tidak?” Slamet setengah bercanda. Candaan yang tidak jenaka bagi sebagian orang. Namun, candaan sederhana itu membuat Nur menatap Slamet lebih dalam.
Kedekatan Nur dan Slamet tumbuh tanpa rencana. Tanpa janji, tanpa dramatisasi, tanpa bumbu-bumbu melankoli. Hingga suatu sore, Slamet datang ke rumah Nur. Ia menyatakan keseriusannya. Ia ingin melamar Nur.
“Nur, aku memang tidak punya apa-apa. Tapi, aku mau bertanggung jawab,” Slamet menawar-lamarkan dirinya pada Nur.
Lamaran itu tidak datang tiba-tiba. Lamaran hasil dari pertemuan-pertemuan kecil yang diam-diam mengikat. Slamet bukan seorang yang pandai berkata. Tanpa janji berlebih atau mahar yang menyilaukan.
Saat itu, untuk pertama kalinya bibir Nur bergerak melengkung ke atas. Kaku. Seperti bunga yang lupa caranya mekar. Seperti fajar yang lupa caranya terbit. Bibir Nur mencoba melemas. Hatinya tersentuh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa… dipilih. Diratukan! Sesuatu di wajahnya berubah. Bibir Nur akhirnya mengurai-lepas. Senyum. Satu.
Nur menikah dengan Slamet. Tidak ada kegaduhan, namun cukup menyenangkan. Tak ada gelaran pesta, tak ada prasmanan, tak ada gaun mewah. Hanya beberapa teman pasar Nur yang datang mengucapkan selamat. Hidupnya tak berubah menjadi mewah. Tetap sederhana, tetap sempit. Namun, ada sedikit rasa hangat yang baru. Ada seseorang untuk diajak menepi dan bersepi. Ada ketentraman batin yang tidak bisa dibeli. Nur belajar untuk mulai percaya, meskipun sedikit.
Hari-hari Nur dan Slamet tetap penuh perjuangan untuk sekadar bertahan hidup. Slamet bekerja sebagai kuli pasar, kuli bangunan, dan kuli-kuli lain yang mengandalkan otot. Ada setitik harapan. Meski kecil. Tapi hidup, ya..hidup. Itu yang terpenting.
“Kang Slamet, capek?” Nur belajar merajuk.
“Yoo, capek, Nur. Tapi kalau untuk hidup, ya harus dikuat-kuatkan,” Slamet menjawab untuk menenangkan Nur.
Mereka tidak punyak waktu banyak untuk bercanda dengan hidup. Setidaknya, mengejar kata ‘cukup’ untuk bertahan. Bekerja, lelah, dan doa yang diucapkan dengan pelan. Khawatir, Sang Maha Mengabulkan tersinggung. Karena, Slamet dan Nur merasa tidak pantas mendapatkan.
Ketidakpantasan yang dirasakan rupanya membuat Tuhan trenyuh. Ia ingin merasakan dua hambanya itu mendapatkan kebahagiaan. Puncak dari cinta adalah bertumbuh dan berkembang. Dua insan yang memadu, menjadikan satu makhluk hidup baru terlahir.
“Alhamdulillah, Bu Nur, anaknya laki-laki,” bidan desa gembira mengabarkan kepada Nur.
Tangisan pecah. Melahirkan putra dari cerita Nur yang telah lama berdebu. Tangis bayi itu dirasakan Nur sebagai azan kecil yang memanggil harapan kembali ke dalam jiwa yang telah lama kosong.
“Le… iki ibumu,” bisik Nur.
Slamet memberikan nama, Muhammad Rizki. Muhammad selayak panutannya. Dan Rizki adalah yang selalu diharapkannya setiap hari. Rizki lahir, dunia seolah memberi jeda kepada Nur. Kelahirannya mengisi seluruh kehampaan batin. Nur memeluknya erat sekali. Seperti memeluk hidup itu sendiri.
“Le… iki ibumu,” bisik Nur sekali lagi,
Dan senyum itu datang lagi. Kedua.
Senyum yang lebih dalam dan lebih hangat dari senyum sebelumnya. Nur menemukan alasan untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup.
Genap enam bulan, Nur riuh dengan buah hatinya. Tetapi, hidup tidak pernah benar-benar memberi istirahat. Ia hanya memberi jeda. Lalu mengulang luka itu kembali. Rizki yang baru saja disuntik imunisasi pagi harinya, badannya panas. Malam hujan turun dengan lebatnya. Langit seakan hilang kesabaran, ditumpah-ruahkan segala yang tertahan. Angin pun mendukungnya. Berputar-putar, masuk dari celah-celah rumah Nur yang banyak lubang.
“Kang Met, Rizki badannya semakin panas,” Nur panik.
Rizki menggigil. Tubuh kecil itu seperti menanggung beban teramat besar. Rizki mengejang.
Nur dan Slamet menerobos gelap dengan sepeda motor tuanya yang tersengal. Membawa Rizki menembus hujan dan angin yang lebat, menuju bidan desa.
“Ya Allah…ojo dijupuk sik. Aku belum siap,” teriak batin Nur. Doanya retak. Harapannya luluh.
Takdir tidak menunggu kesiapan manusia. Ia datang begitu saja, dan manusia harus menerimanya. Rela tidak rela. Tanpa bisa memprotesnya.
Pagi datang membawa sunyi. Rizki benar-benar pergi. Kesedihan Nur tidak gaduh untuk kesekian kali. Ia tidak menangis keras. Tidak pula pingsan. Ia hanya diam. Tetapi diam itu lebih keras dari teriakan. Bumi retak tanpa suara. Senyum kedua… hilang!
Nur menjadi lebih diam. Kehilangan mengubah segalanya. Tidak hanya Nur, Slamet juga menjadi lebih diam. Matanya berubah. Kosong, seperti kehilangan arah.
