Ada dua tipe tamu di pesantren. Pertama, mereka yang langsung nyelonong masuk ke ndalem (rumah seorang kiai) dan disambut bak kawan lama oleh sang tuan rumah. Yang demikian adalah tipe “orang dalam” atau ordal, dalam artian sudah punya relasi yang terjalin dengan kiai.
Kedua, mereka yang mesti bertanya dulu kepada seorang santri tentang ada atau tidaknya kiai di ndalem. Mereka akan pergi jika si santri menjawab “tidak” dan disilakan masuk jika si santri menjawab “iya”.

Mereka adalah tipe tamu yang, walaupun kenalan dekat kiai, tapi masih menganggap penting berbasa-basi. Bisa juga tamu yang tak punya relasi dekat dengan kiai sehingga meminta konfirmasi secara prosedural adalah hal yang sepatutnya dilakukan.
Atau, seperti yang akan kita lihat pada tokoh kita berikut ini: tipe ketiga adalah mereka yang belum pernah bertemu dengan si tuan rumah sama sekali. Tokoh kita bahkan belum pernah mendengar suara atau melihat wajah si kiai. Baik langsung atau dari televisi.
“Assalamualaikum, Kang, bisa bertemu Pak Kiai?” katanya saat sudah sampai di area pesantren.
“Kang” adalah sebutan bagi santri putra, sedangkan “Mbak” bagi santri putri. Yang demikian sudah sangat umum di pesantren-pesantren di Pulau Jawa.
Lelaki yang dipanggil “Kang” itu sedang menyapu. Dengan wajah yang sudah sangat tua, bisa diprediksi bahwa dia adalah seorang santri senior di pesantren itu. Artefak pesantren, begitu kira-kira bahasa arkeologinya. Dan itu membuat tokoh kita agak prihatin karena jika seorang santri setua itu masih bermukim di pesantren, berarti selama umurnya itu pula belum pernah dicicipinya kebutuhan batin dan zahir dengan seorang yang disebut “istri”.
Sembari berjalan ke arah ndalem, tokoh kita ini berbasa-basi dulu, kemudian mengajak bersenda-gurau si santri, dan bilang bahwa pak kiai harusnya peka buat mencarikannya istri. Dan obrolan semacamnya.
Setelah keduanya masuk ke ndalem, si santri menghaturkan minum kepada tokoh kita untuk kemudian undur diri.
Tak berapa lama, pak kiai pun keluar dari sebuah ruang di ndalem. Tokoh kita saat itu sedang mengangkat gelas, dan demi melihat keluarnya pak kiai, ia ingin menumpahkan saja seluruh isi gelasnya itu ke lantai.
Bagaimana tidak, pak kiai ternyata artefak pesantren itu sendiri, yang belum ternafkahi batinnya, yang tidak dicarikan istri oleh pak kiai. Singkatnya, santri yang tadi adalah kiai itu sendiri.
Kurang lebih seperti itulah obrolan saya dengan Muammar Neruda, teman saya satu pesantren, saat kami melihat Pak Kiai menyapu sendiri di halaman ndalem. Beliau masih memakai pakaian santainya –sarung, kaus oblong, dan peci yang agak miring— tak ada beda dengan pakaian santrinya. Bahkan, dalam beberapa kasus, pakaian santrinya lebih bagus.
Sungguh pemandangan yang mungkin sangat jarang ditemukan di pesantren-pesantren atau institusi lain. Bayangkan, kita melihat sebuah berita nasional yang menayangkan video Prabowo sedang mengelap jendela depan Istana Negara? Belum pernah, bukan?
Dan karena pertimbangan itu, saya dan Muammar Neruda sepakat untuk menyebut kiai kami “CEO” dan fenomenanya sebagai “penyamaran”. Maka, cocoklah sudah dengan tren yang hangat belakangan ini, “CEO yang Menyamar”. Ya, walaupun itu hanya sebuah skenario yang amat fiksional.
Dan tentu, kiai saya tak hanya terjun ke lapangan saat itu saja, tapi juga dalam resik-resik yang lain. Setiap habis salat jamaah di masjid, misalnya, Beliau tak pernah absen menjumputi serakan-serakan sampah di sekitar rute yang beliau lewati sampai kembali ke ndalem. Bahkan sesubtil benang yang terlepas dari pakaian, yang kemudian jatuh menyatu dengan sajadah, tak pernah diabaikannya begitu saja.
Tentu saja dalam budaya feodal masyarakat Indonesia —tak terkecuali di pesantren sendiri— sangat langka menemukan sosok yang seperti itu. Sedari dihajar tanpa ampun oleh elite kerajaan dan bangsa kulit putih selama berabad-abad, kekejaman Orba, hingga kini, kita sebagai rakyat seakan tak diberi celah untuk sebentar saja bernapas.
Kita, dari zaman yang saya sebut pertama kali tadi, hingga yang saya sebut terakhir, selalu dipaksa menerima kenyataan bahwa “pemimpin harus dipatuhi” dan ada pembedaan antara “orang besar dengan orang kecil”. Orang kecil tak punya suara, sedang orang besar selalu koar-koar tentang apa saja. Menciptakan sebuah ruang eksklusif yang hanya dihuni oleh elite yang hanya segelintir itu, tapi mengendalikan mayoritas yang tak berdaya.
Di saat seperti itu, kita tak diberi waktu buat memikirkan alam.
Karenanya, kehadiran sosok seperti kiai saya itu menandakan setidaknya dua hal. Pertama, kebutuhan masyarakat kita akan pemimpin yang mau Murba (bukan “Musyawarah Rakyat Banyak”, tetapi “Meluncur ke Bawah”). Hal itu secara perlahan dapat mengurangi dikotomi antara pemimpin-yang-dipimpin atau kiai-santri. Oleh karena pesantren adalah lembaga yang menjunjung tinggi adab, maka dalam hal ini santri dan kiai dapat membaur tanpa harus melepas atribut ketatakramaan di antara mereka.
Kedua, sebagai implikasi dari poin pertama, maka lingkungan butuh pemimpin yang seperti itu. Dengan pemimpin yang mau Murba, apalagi benar-benar ke tingkatan paling dasar dari kehidupan kita, yaitu alam (kita sering mendengar adagium “manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah”), bukan hanya hablumminannas implikasinya, tapi juga hablummminal-alam.
Namun demikian, hanya mengandalkan Murba saja tak akan cukup untuk menghujam ke titik paling vital dari hablumminal-alam ini. Karena, bahkan, jika hanya bicara soal Murba, seorang pria Solo tak tanggung-tanggung melakukannya. Tak hanya terjun ke masyarakat, tapi juga ke gorong-gorong, hingga baru-baru ini masih rajin bersafari ke daerah-daerah walaupun sudah tak jadi presiden. Hebat betul!
Ali Syariati, salah seorang tokoh revolusioner Iran yang paling getol menantang rezim Shah, pernah mengkritik para intelektual Iran yang terlalu mengagung-agungkan agenda Murba seperti itu. Mereka, intelektual yang dikritik itu, selalu bilang, “Kita selama ini terlalu lelah membicarakan penderitaan kita tanpa bertindak. Oleh sebab itu, kita harus berhenti berbicara dan setiap orang harus mulai bertindak.”
Padahal, di saat bersamaan, karya yang membicarakan tokoh-tokoh negara mereka, bahkan Ali bin Abi Thalib yang merupakan imam besar Syiah, masih ditulis oleh para sarjana Barat. Ali kemudian melihat bahwa pola pikir semacam itu tak ada bedanya dengan telur setengah matang. Dari luar memang kelihatan kering. Tapi disenggol dalamnya, akan ambyar begitu rupa.
Dalam esainya, “Islam dan Ketuhanan”, Ali mengatakan –izinkan saya membahasakannya sedikit berbeda— mereka layaknya dokter yang malapraktik. Mendiagnosis pasien lantas percaya diri untuk mengoperasinya. Padahal, diagnosisnya salah.
Dengan kata lain, laku pekerjaan dengan laku pemikiran adalah dua hal yang mesti berjalan beriringan. Kata Imam Az-Zarnuji, merupakan sebuah kerusakan besar saat orang berilmu tidak mengamalkan ilmunya. Tapi lebih besar kerusakannya jika orang yang tak mengerti ilmu dengan pedenya beramal. Sebab itu, hablumminal-alam tak hanya melulu soal “tidak boleh membuang sampah sembarangan”, tapi juga “mengapa tak boleh membuang sampah sembarangan?”
Untuk sekadar menyebut satu dari banyak kiai yang aktif dalam merumuskan fondasi pemikiran seperti itu, yang paling terkenal mungkin Kiai Faizi. Ya kiai, ya seniman. Tapi lebih dari itu, jagat intelektual juga mengenalnya lewat bukunya, Merusak Bumi dari Meja Makan, dan esai-esai ekologis lain yang seringkali memadukan pengalaman personal dengan data-data ilmiah yang mendalam. Gaya tutur karyanya, untuk seorang kiai yang sudah menginjak kepala lima, masih terasa seperti seorang remaja umur dua puluhan awal, seperti saat ia menulis dalam bukunya begini:
Adakah yang lebih abadi daripada cinta Majnun kepada Laila? Ada, di antaranya ialah kotak styrofoam, bungkus nasi Majnun Laila milenial, bungkus makan siang mereka berdua yang akan tetap abadi di atas tanah saat mereka sudah terkubur di baliknya. (hal.76)
Tapi bukan berarti semua kiai harus menciptakan sebuah risalah pemikiran macam Kiai Faizi, atau membuat buku setebal Principia Logica-nya Martin Suryajaya. Sama halnya dengan seorang aktifis politik yang mau menumbangkan pemerintah tapi selalu sibuk turun ke jalan, kiai sebagai warasatul anbiya (pewaris para nabi) yang berdakwah di tengah-tengah masyarakat, juga tak selamanya punya waktu untuk menulis buku.
Ada yang aktif di pengajian, ada yang sibuk mengurusi santri, ada pula yang aktif di kegiatan sosial. Maka, layaknya seorang aktifis yang mengikuti isme-isme tertentu, kiai juga bisa melandaskan pemikirannya, juga pesantrennya, kepada sanad keilmuan tertentu.
Contoh yang menarik adalah Gus Roy yang pada 2019 lalu didorong oleh rasa prihatin terhadap berbagai konflik ekologis yang tak berkesudahan, mendirikan Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar. Tak hanya membolak-balik kitab kuning, santri di sana juga dilatih membolak-balik kompos hingga membalik pikirannya dari Islam yang jumud ke progresif. Keberpihakan pesantren itu jelas: inklusif, ahlussunnah waljamaah, humanis, ekologis, berkeadilan gender dan sosial.
Pemikirannya tentang lingkungan sebenarnya tidak terlau ribet untuk diikuti oleh kalangan pesantren yang sering berjibaku dengan Al-Qur’an dan, dalam beberapa kasus, kitab kuning.
Dalam esainya, “Krisis Ekologi dan Bangkrutnya Peran Agama”, ia secara sederhana memformulasikan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kaidah-kaidah fikih —makanan sehari-hari santri— sebagai solusi dari berbagai masalah lingkungan. Bahwa ayat ke-56 surat Al-A’raf mengatakan “Jangan membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” atau kaidah fikih “menolak kerusakan lebih diutamakan dari mengharap kemaslahatan” dan semacamnya, secara jelas menujukkan bahwa Islam yang sejati sebenarnya sangat anti terhadap segala bentuk eksploitasi.
Tapi Gus Roy, juga kita semua, tentu saja tahu belaka bahwa sekarang para kiai lebih asyik berebut batu bara daripada mutholaah (baca: mengkaji kembali) kitab-kitabnya. Itu pula hal yang menyebabkan saya agak khawatir saat kiai saya beberapa waktu lalu meninggalkan pesantren selama dua bulan untuk berhaji. Apakah pesantren saya kemudian ikut-ikutan tabiat munafik “kiai-kiai tambang” itu? Apakah jika tak ada kiai yang resik-resik kemudian santrinya juga ikut-ikutan?
Beruntungnya, penyamaran kiai saya tampaknya berhasil. Ketiadaannya tak lantas mengubah kebiasaan kami secara fundamental. Ia kadung kami anggap sebagai sesama santri. Ikut bersih-bersih ya silakan, tidak ikut ya digantikan saja sama yang lain. Dan justru, di situlah letak kekuatannya. Ia tak hanya “sosok”, tapi juga teman, bahkan napas, bagi para santrinya.
