Apabila kesadaran kritis masyarakat—dalam arustama demokratisasi—mulai menjangkar keluar dari arena kefitrahannya, di mana daya-daya afektif-kognitif kehilangan kemerdekaan progresif-egaliternya, logika kampungan kita akan mulai curiga pada sebuah fenomena: hegemoni.
Kuasa yang tak lagi terkontrol oleh konstitusi kini berselingkuh-ria di balik birokrasi dan panggung kebudayaan. Persuasi politik dibingkai indah dalam balutan etika, kebangsaan, dan bahkan perilaku beragama.

Sebagaimana telah diwanti-wanti oleh Antonio Gramsci bahwa hegemoni tidak sekadar beroperasi melalui aparatus represi negara di ranah politik formal. Ia bisa merayap halus ke dalam pola kehidupan sosio-kultural dan pranata keagamaan masyarakat bawah.
