Teater Hegemoni dan Kiamat Intelektual Pasca-Muktamar

​Dalam lanskap kapitalisme yang terlambat (late capitalism), dominasi kekuasaan ini berjalin-jemalin dengan arus deras konsumerisme dan panggung teater politik. Fenomena tersebut mewujud secara eksplisit ketika kita menelisik perhelatan keagamaan seperti Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang. Di atas panggung seremonial yang dirancang-bangun sedemikian rupa dengan gemerlap teknologi, pertunjukan visual, dan kehadiran karpet merah kekuasaan negara, berlangsung penetrasi hegemoni yang tersusun rapi.

Penyatuan simbolis antara otoritas ulama dan elite eksekutif, yang disusul oleh masifnya narasi industri keuangan serta komersialisasi pasar, membuktikan betapa pranata keagamaan rawan terkooptasi ke dalam ruang imagologi—sebuah dramatisasi politik yang menggiring kesadaran publik menuju fantasi seraya mengikis daya kritis masyarakat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

​Syaraf hegemoni kekuasaan ini bekerja melalui panggung semu yang mengaburkan borok-borok pragmatisme. Ketika forum permusyawaratan fikih dan kebangsaan terancam tergelincir menjadi sekadar komodifikasi relasi kuasa serta ajang transaksi teknokratis, yang pasti kita sedang menyaksikan defisit kemanusiaan yang akut.

Tinggalkan Balasan