Kebebasan ekspresi dan kanal media massa didramatisasi sedemikian rupa sehingga simbiose antara elite agama, kapitalisme, dan penguasa tampak sebagai sesuatu yang “merakyat” dan penuh keadaban. Padahal, di balik balutan jargon pseudo-moral dan kesalehan formal, cita-cita luhur kemanusiaan berupa keadilan sosial dan pembelaan terhadap kaum yang terpinggirkan justru mengalami pencederaan yang sangat substansial.
Oleh sebab itu, sudah saatnya kita, tanpa terkecuali kaum sarungan, membongkar makna kekuasaan dan keberagamaan melalui optik relasi kepentingan yang telanjang.

Walhasil, pertanyaan kampungan yang bisa kita ajukan kembali tidak lain dan tidak bukan adalah: apakah institusi keagamaan dan ruang kebudayaan kita masih menjadi benteng emansipasi masyarakat, atau justru telah berubah menjadi instrumen penjinak yang memuluskan berjalannya hegemoni kekuasaan?
