Jika iklim demokratisasi yang semu, komersialisasi simbol-simbol suci, dan ideologisasi pasar ini terus dibiarkan menjinak tanpa perlawanan nalar kritis (common sense), maka sejarah bangsa ini akan terjebak dalam kiamat intelektual—di mana masyarakat kehilangan kecerdasan emansipatorisnya dan terasing di balik topeng demokrasi yang mereka agung-agungkan sendiri.
