Sejarah Islam mengenal masjid bukan hanya sebagai tempat orang berdiri dalam saf untuk melaksanakan salat. Pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi di Madinah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Di tempat itu umat belajar mengenal Islam, menerima pengajaran, berdiskusi, bermusyawarah, bertemu dengan sesama, bahkan membicarakan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Masjid menjadi ruang yang mempertemukan kehidupan spiritual dengan kehidupan sosial.
Gambaran tersebut menarik untuk direnungkan kembali hari ini. Masjid memang tetap menjadi tempat utama untuk beribadah, tetapi kehidupan masyarakat telah berubah. Persoalan yang dihadapi umat juga semakin beragam. Kemiskinan, bencana, konflik sosial, krisis lingkungan, persoalan pendidikan, hingga penderitaan masyarakat akibat perang berada di sekitar kehidupan manusia modern.

Masjid sebenarnya mempunyai modal yang kuat untuk merespons persoalan tersebut. Ada imam, jamaah, pengurus, pemuda masjid, majelis taklim, lembaga zakat, dan berbagai jaringan sosial yang tumbuh di dalamnya.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi berapa banyak masjid yang dimiliki Indonesia, melainkan seberapa jauh masjid hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan?
Pertanyaan semacam ini terasa semakin relevan ketika Kementerian Agama menggelar International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta. Forum yang mempertemukan para imam besar dari berbagai negara tersebut membawa tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”. Masjid, diplomasi keagamaan, dan perdamaian dunia ditempatkan dalam satu ruang pembicaraan.
Pilihan tema itu seolah mengajak kita melihat masjid dari sudut yang lebih luas. Masjid bukan hanya tempat membangun kesalehan pribadi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun kepedulian sosial dan kemanusiaan.
Masjid dan Fungsi Sosialnya
Kehidupan masjid di Indonesia sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Hampir setiap lingkungan memiliki masjid atau musala. Ia berdiri di tengah kampung, perumahan, pasar, sekolah, kampus, sampai kawasan perkotaan. Setiap hari ada jamaah yang datang dan pergi. Ada imam yang memimpin salat, ada pengurus yang mengelola kegiatan, dan ada masyarakat yang menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kedekatan seperti ini sebenarnya merupakan kekuatan sosial yang besar.
Ketika seorang warga mengalami kesulitan ekonomi, misalnya, orang pertama yang mengetahui persoalan itu sering kali justru tetangga dan jamaah masjid. Ketika terjadi bencana, masjid sering menjadi tempat berkumpul dan mengumpulkan bantuan. Ketika ada anak yatim yang membutuhkan perhatian, kegiatan santunan banyak lahir dari lingkungan masjid. Zakat, infak, sedekah, pengajian, dapur sosial, sampai pemberdayaan ekonomi juga sudah lama menjadi bagian dari aktivitas sejumlah masjid di Indonesia.
Semua itu menunjukkan bahwa fungsi sosial masjid sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Persoalannya adalah bagaimana fungsi tersebut diperkuat dan dikelola agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
