Perempuan dalam Sapaan Agama

Perempuan memiliki posisi yang panjang dalam sejarah keberagamaan. Ia hadir dalam kisah para nabi, dalam perjalanan dakwah, dalam transmisi keilmuan, dan dalam berbagai peristiwa yang membentuk sejarah umat manusia. Namun, dalam perkembangan wacana keagamaan, perempuan sering kali “dihadirkan” sebagai pihak yang dibicarakan daripada sebagai subjek yang ikut berbicara.

Pembicaraan tentangnya kerap berkisar pada pakaian, aurat, pergaulan, pernikahan, kewajiban terhadap suami, hingga peran dalam keluarga. Semua itu tentu memiliki tempat dalam khazanah keislaman. Tetapi ketika pembicaraan tentang perempuan terlalu sering berhenti pada aturan mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, perempuan seolah hanya ditempatkan sebagai objek dari ketentuan agama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Padahal, agama tidak hanya berbicara tentang aturan. Ia juga menyapa manusia sebagai subjek yang memiliki iman, akal, tanggung jawab, dan hubungan langsung dengan Tuhan.

Al-Qur’an, misalnya, menggunkan sapaan seperti ya ayyuhan-nas (wahai manusia) dan ya ayyuhalladzina amanu (wahai orang-orang yang beriman). Sapaan tersebut tidak dibatasi oleh jenis kelamin.

Bahkan dalam QS. al-Ahzab ayat 35, laki-laki dan perempuan disebut berdampingan dalam berbagai kualitas spiritual, beriman, taat, jujur, sabar, khusuk, bersedekah, berpuasa, dan mengingat Allah.

Perempuan, dengan demikian, tidak hadir hanya sebagai pelengkap dalam perjalanan spiritual manusia. Ia juga hadir sebagai subjek yang memilki tanggung jawab keagamaan dan akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri di hadapan Tuhan.

Tinggalkan Balasan