Ketika Adab Membuat Kita Berhenti Berpikir Kritis

Salah satu hal yang paling kuat dalam tradisi pesantren adalah penghormatan kepada guru. Seorang santri tidak hanya diajarkan bagaimana memahami kitab, tetapi juga bagaimana bersikap kepada orang yang mengajarkan kitab itu. Guru dihormati, nasihatnya didengar, dan aibnya dijaga.

Tradisi semacam ini memiliki alasan yang cukup masuk akal. Ilmu tidak hanya dipandang sebagai informasi yang dipindahkan dari guru kepada murid. Ia juga membutuhkan keteladanan. Karena itu, hubungan guru dan murid tidak sepenuhnya dibangun atas relasi akademik, tetapi juga relasi moral. Persoalannya muncul ketika penghormatan kepada guru berubah menjadi ketidakmungkinan untuk mengkritik guru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam sejumlah kitab klasik, murid memang dianjurkan untuk tidak mencari-cari aib gurunya. Bahkan ada anjuran agar seorang murid tidak melihat kekurangan gurunya agar keberkahan ilmu tetap terjaga. Kita bisa memahami logika ajaran tersebut dalam konteks hubungan personal antara guru dan murid.

Tetapi apakah prinsip yang sama dapat digunakan ketika seorang guru melakukan kekerasan terhadap muridnya? Di sini kita perlu membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan: menjaga aib dan menyembunyikan kezaliman.

Tinggalkan Balasan