Karena itu, saya kurang setuju dengan gagasan tentang ketaatan yang berhenti pada kalimat: pokoknya taat kepada guru. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang harus ditaati dan mengapa? Seorang guru tidak menjadi benar hanya karena ia seorang guru. Begitu pula seorang santri tidak menjadi salah hanya karena ia mengkritik gurunya. Otoritas seharusnya tidak menghapus kemampuan seseorang untuk menggunakan akal.
Dalam tradisi intelektual Islam sendiri, perbedaan pendapat bukan sesuatu yang asing. Para ulama berbeda pendapat justru karena mereka menganggap argumen harus diuji, bukan sekadar siapa yang mengucapkannya. Maka, mungkin yang perlu diperbaiki bukan tradisi takzim kepada guru, melainkan cara kita memahami takzim itu sendiri.

Menghormati guru tidak berarti menganggapnya tidak mungkin salah. Menjaga aib tidak berarti membiarkan kezaliman berlangsung. Dan taat tidak berarti menyerahkan seluruh kemampuan berpikir kepada orang lain.
Pesantren tidak perlu kehilangan tradisinya untuk menjadi kritis. Ia hanya perlu memastikan bahwa adab tidak berubah menjadi alat untuk membungkam. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan seberapa patuh seorang murid kepada gurunya, tetapi apakah ia mampu berdiri dengan akalnya sendiri ketika berhadapan dengan persoalan moral.
