Azan dan Spiritualitasnya

Baru-baru ini viral di media sosial azan dengan versi berbeda. Pada umumnya, azan adalah seruan kepada kaum muslim sebagai pemberitahuan dan ajakan untuk salat. Karena itulah di dalam azan ada frasa “Hayya ‘alasshalah” yang berarti “mari mendirikan salat”.

Seruan“Hayya ‘alasshalah”menunjukkan bahwa waktu salat sudah tiba, dan saatnya melaksanakan salat (secara berjamaah). Tetapi, azan yang viral di media sosial itu menggantinya dengan “Hayya ‘alal jihad,” yang berarti mari kita jihad atau berperang. Tentu saja pengubahan azan ini mendapatkan tanggapan yang beragam dari berbagai kalangan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas meminta agar masyarakat tidak terprovokasi dengan ajakan yang bisa memecah belah bangsa itu. “Jangan terpengaruh hasutan, apalagi terprovokasi. Agama jelas melarang keterpecah-belahan dan menyuruh kita bersatu dan mewujudkan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat,” kata Robikin dalam keterangan tertulis.

Sementara, Sekretaris Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’thi, mengatakan, bahwa azan model tersebut tidak ada dasar hukumnya. “Saya belum menemukan hadis yang menjadi dasar azan tersebut. Saya juga tidak tahu apa tujuan mengumandangkan azan dengan bacaan ‘hayya alal jihad.” Abdul Mu’thi juga berharap agar pemerintah segera bertindak untuk mencegah tersebarnya video tersebut.

Terlepas dari hiruk pikuk persoalan azan dengan kalimat jihad, tidak ada salahnya kita mencoba menelaah lebih jauh nilai spiritual dari kalimat-kalimat azan. Karena, dalam azan itu sendiri mengandung lafal-lafal thoyyibah (kalimat kebaikan) yang dapat ditelusuri makna spiritualnya. Kemudian dijadikan sebagai bentuk apresiasi dalam aktualisasi kehidupan religius.

Sejarah Azan

Dalam sejarah, syariat azan terjadi ketika Rasulullah mencari cara bagaimana agar ajakan salat dapat didengar oleh masyarakat luas. Para sahabat mengusulkan agar dibunyikan lonceng seperti kaum Nasrani, atau ditiup terompet seperti orang Yahudi. Tetapi Rasulullah tidak setuju dengan usulan tersebut.

Berdasarkan Sirah Nabawi (Ibnu Hisyam, 2018), azan bermula dari mimpi sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Zaid. Dalam mimpi tersebut, Abdullah bin Zaid didatangi seseorang yang berjubah hijau dan mengajarkan kalimat-kalimat azan. Lafal-lafal azan yang dimaksud adalah sebagimana yang kita ketahui saat ini. Kemudian, Rasulullah memerintahkan Bilal bin Rabah mengumandangkan azan sebagaimana mimpi Abdullah bin Zaid. Lalu datanglah Umar bin Khattab yang menceritakan kepada Nabi bahwa dirinya juga bermimpi sebagaimana mimpi yang dialami Abdullah bin Zaid. Sejak itulah azan disyariatkan sebagai penanda masuknya waktu salat sekaligus ajakan untuk salat berjamaah, dan disyariatkan di kota Madinah pada tahun pertama Hijriyah.

Waktu Azan

Tinggalkan Balasan