Agnotisisme dan Santri

Pendek kata, kaum agnostik sebenarnya beragama namun “sekadarnya”. Berawal dari ketertarikan dengan dunia sains, membaca buku tentang pikiran bebas, filsafat yang mengarah pada kebebasan berlogika, semua pertanyaan harus ada jawaban yang akhirnya terbentuk seorang yang “berprinsip”.  Diawali dengan teori atheisme, bahwa manusia hidup adalah “kebetulan”, tidak ada takdir, semua hasil usaha dan hasil perbuatan, seperti yang teori Stephen Hawking, teori Big Bang, proses terbentuknya dunia. Bergeraklah kepada konsep agnostik, sesuatu itu harus ada yang memulai. Tuhan memulai segalanya. Tuhan adalah Alpha sekaligus Omega. Masih menurutnya, Tuhan adalah refleksi sempurna dari manusia. Tuhan dengan kemahaannya: Maha Benar, Maha Melihat, dan sebagainya, dan manusia tidak bisa “menjadi” seperti itu dan berusaha mengejar “sempurnya” dengan refleksi Tuhan sebagai Maha Sempurna.

Jauh sebelum ada istilah agama (menurut dia), manusia mengenal animism dan dinamisme. Misal, Matahari yang mampu menyinari semesta, atau penjagaan ruh leluhur. Itu yang menjadi acuan zaman dulu. Seiring berkembangnya neuron manusia, muncul pertanyaan ketauhidan. Misal, untuk apa surga dan neraka diciptakan? Kenapa manusia harus mengejar hal tersebut dengan berperilaku agama yang baik? Kenapa manusia tidak memperbaiki dirinya sendiri, untuk be better, menjadi manusia “semanusia-manusianya”? Berarti ini memicu rasa egosentrisme. Jika seseorang memeluk dan menjalankan suatu agama dengan baik, lalu merasa superior, maka orang tersebut berpotensi juga menyalahkan agama lain beserta pengikutnya. Nah, inilah yang menjadi alasan kaum agnostic; mengapa harus memilih satu agama, jika merasa “lebih baik”, lebih alim, yakin masuk surga, sementara yang “bukan” di agamanya adalah di bawahnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Paham agnostik merasa “lucu”, menganggap konsep agama adalah warisan, karena keturunan, karena orang tua, default system. Agama harus dicari, harus terus digali, baru bisa dipegang teguh. Bagaimana seseorang bisa teguh jika hanya memperoleh “agama warisan”? Sementara rata-rata orang beragama tidak pernah merasakan atau memelajari agama lain. Atau, jangan-jangan mereka hanya ikut-ikutan beragama. Paham agnostik menganggap, jika ada seorang berpindah agama, lalu ramai dihujat karena dianggap kafir atau murtad, bagi mereka pindah agama adalah untuk menemukan konsep kebenaran. Dengan ini paham agnostic menemukan argumennya, bahwa agama membuat merasa superior; cenderung menghujat dan menyalahkan karena tidak sepaham.

Dia kembali mencontohkan peristiwa Perang Salib, Israel versus Palestina, aksi terorisme ISIS, yang dianggap agama menjadi alasan utama perang. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku beragama bisa membunuh, membantai, melukai sesama manusia. Dari sisi kemanusian menurut mereka adalah salah, namun masih saja orang akan mencari “pembenaran” dengan dalil-dalil agama yang dipercaya pengikutnya.

Penganut paham agnostic cenderung berlaku wajar, sama dengan lainnya, mengisi kolom agama pada KTP, berlaku ibadah untuk menghargai orang tua, namun hatinya hampa, kosong, tanpa keteguhan iman. Biasanya agnostik tetap menampakkan agama yang dianutnya, namun tidak dalam beribadah. Agnostik akan menutup dirinya, hanya terbuka pada komunitasnya, karena eksistensinya masih begitu tabu dan tidak diakui dalam agama dan kepercayaan di Indonesia. Berprinsip being an agnostic is being a human, agnostik bagi penganutnya adalah jalan hidup, pandangan hidup.

Santri dan Agnostisisme

Islam merupakan agama samawi yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Menyempurnakan agama-agama sebelumnya dengan mukjizat al-Quran sebagai pedoman. Salah satunya adalah tuntunan pedoman keimanan, sebagai fundamental awal ketauhidan untuk menangkal perilaku agnostik. Santri yang berpegang teguh pada agama, menjadikannya sumber moral, petunjuk kebenaran, sumber informasi masalah metafisika, dan bimbingan menjalani kehidupan. Mengakui bahwa akal pikiran memiliki keterbatasan, relativitas inderawi yang terbatas, penerimaan eksistensi tanpa membuktikan secara empiris, menjadi bagian rukun iman, termasuk memercayai hal ghaib.

Imam al-Ghazali menyebut golongan yang menolak ilmu dengan kejahilan tingkat tinggi yang susah untuk menyembuhkannya. Ia mengatakan bahwa kejahilan paling besar adalah rojulun la yadri, wa la yadri annahu la yadri (orang yang bodoh, tapi tidak tahu dirinya tidak tahu). Terhadap golongan ini, Imam al-Ghazali memberi saran agar seorang muslim tidak mendekatinya. Atau tinggalkanlah!

Tinggalkan Balasan