Agnotisisme dan Santri

Jika seorang agnostik berpikir tentang berbuat baik dan asal hidup tidak menyakiti, bagaimana parameternya? Subjektivitas! Berarti masih dalam konsep yang relatif bisa “salah”, “sing bener durung mesthi pener”. Karena itu, agama memberikan tolok ukur atau parameter akan kebenaran yang mutlak menurut Allah SWT.

Manusia memunyai mood, pun manusia bisa saja suatu waktu berada dalam situasi tertentu, hilang kendali. Nah, agama mengajarkan untuk mengendalikan diri. Seseorang dengan keimanan yang teguh, akan tetap bermoral sama dalam situasi dan kondisi apa pun, karena ada agama telah menjadi rule.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagaimana dengan penganut agama yang merasa superior? Konflik dengan argumen agama? Penganut yang taat namun sering berbuat fasik? Al-Quran menjawabnya, “Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-Araf: 56).

Berarti bukan kesalahan agama, namun pengikut dari agama tersebut yang kurang memahami makna beragama sesungguhnya. Umat Islam dilarang menggangu kafir dzimi, yakni orang-orang selain Islam yang ingin hidup rukun dan berdampingan, sehingga bilamana orang Islam itu mengganggu mereka, artinya mereka menggangu dan memusuhi Nabi Muhammad SAW.

Agama sebagai penentram batin. Ketika batin manusia merasa galau dan butuh ketentraman, maka manusia perlu mengadu untuk “memuaskan” dan mengekspresikan macam bentuk permintaan. Dan agama mengaturnya dalam tata laksana ibadah.

Finally, jelas agnotisisme yang dianggap posmodernisme, rasional, menghindari pemikiran transendental sebagai nihilisme, zonk. Nanun, mereka lupa bahwa anugerah otak untuk kecerdasan berpikir berasal dari Allah SWT. Manusia sangat mungkin mengetahui hakikat sesuatu melalui wahyu. Setelah manusia mendapat pengetahuan melalui wahyu tersebut, manusia diperintah konsisten dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, dengan mengamalkan apa yang menjadi ilmu berkaitan dengan iman. Ilmu pengetahuan adalah salah satu dasar bagi semua keutamaan amal. Keutamaan amal dalam Islam ditandai dengan keharusan menguasai ilmu dalam setiap amalan ibadah yang akan dikerjakan.

Dalam konteks ini, din (agama) adalah gabungan antara iman dengan Islam dan menerima bahwa ilmu pengetahuan dan amal saleh merupakan bagian yang tak terpisahkan dari iman. Di sini pentingnya diketahui bahwa ilmu, iman, dan amal harus menyatu, tidak hanya mengedepankan otoritas akal semata, tapi juga harus bersandar pada iman dan ilmu. Jadi harus mengaji untuk mendapatkan ilmu. Menjadi santri dari para ulama dan kiai yang jelas sanadnya dan berilmu serta berpaham luas.

Dengan demikian, posisi ilmu berkaitan dengan akidah. Semoga kita terhindar dari pemikiran dan perilaku agnostik, serta dalam bimbingan Allah SWT untuk tetap diberikan hidayah keimanan. Amin.

Tinggalkan Balasan