Selain para Nabi Muhammad, para nabi terdahulu juga menjalani laku riyadhoh. Misalnya, Nabi Musa melakukan riyadhoh di Gunung Thur Sina. Setelah riyadhoh di bukit ini, Nabi Musa mendapat wahyu kenabian, mukjizat tongkat, bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah. Nabi Adam melakukan riyadhoh saat baru diturunkan dari surga dan dalam pengembaraan mencari Siti Hawa sampai akhirnya bertemu di Jabal Rahmah. Riyadhoh yang dilakukan Nabi Adam adalah dengan berdiam siang malam sambil mohon ampun kepada Allah atas kesalahannya melanggar larangan Allah hingga diturunkan dari surga. Nabi-nabi lain juga menjalani laku riyadhoh dalam proses kehidupannya sampai mencapai derajat kebatinan tertinggi.
Riyadhoh tidak hanya menjadi tradisi para Nabi, bahkan masyarakat Nusantara juga mengenal tradisi ini. Di kalangan masyarakat Jawa, tradisi riyadhoh ini disebut dengan tapabrata. Tradisi ini dilakukan oleh para pandita dan ksatria. Menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, dalam upaya mendekatkan diri kepada Gusti Allah, manusia Jawa juga harus menjalankan tapa brata. Ada tujuh jenis tapa brata. Pertama, Tapa Jasad, yakni laku badan jasmaniah. Suatu upaya membersihkan hati dari sifat benci dan sakit hati, ikhlas menerima nasib, pasrah terhadap ketentuan-Nya. Puasa jasad ini merupakan puasa pada tataran syariah.

Kedua, Tapa Budi, yakni laku tarekat untuk menjaga diri dari tindakan tercela seperti dusta, ingkar janji, aniaya, berkhianat, dan sebagainya. Kemudian berusaha menjalankan tindakan terpuji seperti jujur, amanah agar bisa mewujudkan budi luhur. Ketiga, Tapa Hawa Nafsu, yakni laku batin untuk membentuk jiwa sabar dan alim serta memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Keempat, Tapa Rasa Sejati, yaitu menempa diri melakukan semedi untuk mencapai bening kalbu atau ketenangan batin. Kelima, Tapa Sukma, yaitu laku batin agar mampu menjaga diri supaya tidak tertarik pada gemerlapnya dunia, bersikap ambeg parama arta, atau bermurah hati, ikhlas dalam berbagi dan tidak mengganggu orang lain.
Keenam, Tapa Cahya Amuncar. Tapa ini dilakukan untuk menjaga hati agar selalu waspada dan ingat kepada Allah. Melalui tapa ini seseorang memiliki kemampuan melihat secara lahir dan batin, bisa membedakan yang palsu dan sejati. Pendeknya, melalui Tapa Cahya Amuncar ini seseorang mampu menyingkap tabir kehidupan. Ketujuh, Tapa Hidup (Tapaning Urip), yaitu bertapa di tengah keramaian hidup, tapi tetap menjaga kejernihan hati dari berbagai godaan yang bisa mengotorinya. Meski berada di tengah kepungan kenikmatan, kemewahan, desakan kepentingan, tapi tetap menjaga keikhlasan hati tanpa memiliki rasa khawatir karena percaya segala sesuatu yang terjadi adalah merupakan kebijakan dari Gusti Allah Yang Maha Mengetahui.
