Buku, Pembaca, dan Kritik Sastra

Dalam sejumlah kegiatan literasi di sekitar Tasikmalaya, baik berupa diskusi sastra, peluncuran buku, maupun temu para aktivis Taman Baca Masyarakat (TBM), selalu muncul dalam perbincangan nama-nama baru penulis asal Tasikmalaya, khususnya dalam penulisan novel. Tentu saja ini sebuah fenomena baru, setidaknya bagi saya pribadi.

Selama ini aktivitas kepenulisan anak-anak muda di Tasikmalaya lebih didominasi oleh puisi, dan ini sudah berlangsung hampir tiga dekade. Banyak nama penyair muncul ke permukaan. Ada yang konsisten untuk terus berproses hingga berdarah-darah.  Tidak sedikit juga yang pelan-pelan mundur dan menghilang. Ada yang menonjol ke permukaan, banyak juga yang meredup kemudian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi proses kepenyairan terus berlangsung secara alamiah. Atmosfir puisi masih memberikan aroma khas bagi udara Tasikmalaya, dan nama-nama penyair baru pun datang silih berganti. Mereka hadir untuk meneruskan tradisi.

Begitu juga penerbitan buku puisi, diskusi puisi, maupun lomba pembacaan (serta musikalisasi) puisi ikut menandai semaraknya dunia kepenyairan di wilayah Priangan bagian timur ini. Mungkin tidak berlebihan ketika sekali waktu saya dan kawan-kawan dengan penuh semangat memasang spanduk di tengah-tengah keramaian kota dengan bunyi: “Tasikmalaya Kota Puisi, Hukum Mati Pelaku Korupsi”.

Buku

Asep M Tamam adalah seorang dosen bahasa dan sastra Arab yang punya minat luar biasa pada dunia literasi. Selain membangun komunitas penulis di kampus-kampus tempat dia mengajar, dia pun membina para peminat literasi di madrasah-madrasah aliyah di sekitar kota dan kabupaten Tasikmalaya.

Beberapa nama, baik dari kalangan mahasiswa maupun siswa, diceritakan Asep sudah berhasil menulis novel dan menerbitkannya sebagai buku. Bukan hanya mahasiswa dan siswa, bahkan sejumlah guru madrasah juga mulai ikut aktif menulis dan menerbitkan buku.

Pada sebuah kesempatan diskusi dan peluncuran buku, Asep menceritakan beberapa nama seperti Ajeng Triani Putri yang menulis 6 buku novel dan nonfiksi; Alfi Hudori yang menulis 5 buku nonfiksi; dan Dede Syifa Izzatul Aulia yang menulis 6 novel dengan beragam cerita. Bahkan, Dede Syifa yang masih siswa madrasah aliyah, sebagian novelnya telah diterbitkan penerbit mayor.

Ajeng, Alfi, dan Dede merupakan lokomotif di komunitasnya. Di belakang mereka masih banyak nama-nama lain yang serius berproses. Mereka juga menerbitkan buku antologi bersama baik di komunitasnya sendiri maupun lintas komunitas.

Asep juga tak lupa menyebut nama Ida Nurhalida dan Eneng Sri Riskynayla, guru madrasah aliyah yang cukup produktif menulis. Juga nama Iwok Abqary, penulis cerita anak-anak dan remaja. Dan, terakhir, Fuad Hisyamudin, alumnus sebuah pesantren di Tasikmalaya bagian utara yang kini menulis novel panjang, Pancar, yang merupakan bagian pertama dari trilogi yang direncanakannya.

Tiba-tiba saya teringat pada Saeful Badar, salah seorang pendiri Sanggar Sastra Tasik (SST) yang pergerakan sastranya lebih memusat di sanggar. Di sana ia dan kawan-kawannya membuka diri secara terbuka bagi siapapun yang berminat dan berniat menggeluti dunia tulis-menulis, khususnya sastra. Dengan demikian kegiatannya lebih terjadwal dan terpusat, yakni di markas sanggar.

Adapun, kunjungan ke kampus, sekolah, atau pesantren sifatnya hanya sporadis atau pada saat event tertentu. Hal ini sedikit berbeda dengan Asep M Tamam, yang justru ia sendiri yang aktif mendatangi langsung kampus-kampus dan sekolah-sekolah hingga ke pelosok.

Dua gaya pergerakan ini menurut saya sama-sama penting dan bermakna. Dan kedua tokoh literasi ini secara tidak langsung telah saling mengisi bagi kehidupan sastra di Tasikmalaya.

Dan terbukti, baik lewat Saeful Badar dengan SST-nya maupun Asep M Taman dengan gerakan literasi lintas kampus dan sekolahnya telah melahirkan banyak penulis. Terbukti pula, sebagai mentor, kedua sosok ini memotivasi rekan-rekan atau katakanlah binaannya untuk selalu mempunyai target menerbitkan buku. Anggota SST sudah banyak yang menerbitkan buku, khususnya puisi. Begitu juga anak-anak binaan Asep M Tamam banyak yang sudah menerbitkan buku, khususnya novel dan nonfiksi.

Tinggalkan Balasan