Kenyataan itulah yang ada di depan mata saat Sayyid Ja’far Shadiq mendakwahkan ajaran Nabi yang dibawanya ke Kudus, termasuk ajaran menyembelih hewan kurban sebagai bagian dari peribadatan. Maka, Sayyid Ja’far Shadiq yang kemudian kita kenal sebagai Sunan Kudus, itu meminta keluarga dan jemaahnya untuk tidak menyembelih sapi saat Idul Kurban. Dipilihlah kerbau atau kambing sebagai gantinya. Hingga saat ini, tradisi penyembelihan kerbau saat Idul Kurban masih hidup di masyarakat Kudus.
Larangan menyembelih sapi yang dikeluarkan Sunan Kudus didasari dua hal. Pertama, untuk menghormati kepercayaan masyarakat Kudus yang beragama Hindu. Kedua, menjaga perasaan, ikatan sosial, dan persaudaraan sesama masyarakat. Tak lagi menyembelih sapi dan menggantinya dengan kerbau saat berkuban tak melanggar perintah Tuhan. Tapi jika ngotot menyembelih sapi namun menyakiti hati orang lain, belum tentu juga ibadahnya diterima Tuhan.

Jika saat itu yang muslim tetap menyembelih sapi, tidak tertutup kemungkinan yang pemeluk Hindu akan sakit hati karena merasa kepercayaannya dilecehkan. Titisan dewanya dibunuh. Percikan ini bisa memantik api ketegangan dan pertikaian sosial. Bayangkan jika itu terjadi hari-hari ini… bisa jadi justru yang percaya bahwa sapi merupakan hewan suci yang akan disembelih, bukan lagi hewannya.
