Aktivisme Ekonomi Ansor, Antara Ingatan dan Imajinasi 

Tidak seperti ingatan politik dan perjuangan kebangsaan, aktivitas ekonomi nyaris samar di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), terlebih bagi Gerakan Pemuda Ansor yang pada 24 April 2026 ini genap berusia 92 tahun.

Hairus Salim (LKiS, 2004) mencatat aktivisme politik dan perjuangan kebangsaan sedemikian lengkap. Ia tidak sekadar mencatat ingatan, tetapi juga imajinasi mengenai alasan aktivisme itu sampai sekarang masih jadi core utama GP Ansor melalui Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Adagium “NKRI harga mati” seperti yang kerap didengungkan adalah bagian dari ingatan dan imajinasi itu. Melalui Banser, mulanya sekumpulan pemuda hanya berkecimpung dalam aktivitas kepanduan non-politik di masa penjajahan Belanda. Corak aktivisme kepanduan memang nyaris melekat dalam organisasi yang ada pada masa penjajahan Belanda.

Di antaranya Sarekat Islam Afdeeling Pandu, Hizbul Wathon, Nationale Padvinderij, Jong Jawa Padvinderij hingga Al Kasjaf wal Fadjrie. William H. Frederick menyebut gerakan yang tumbuh di bawah organisasi ini menjadi perangkat utama – selain institusi pendidikan – yang digunakan untuk menumbuhkan “semangat” pemuda.

Di masa pemerintahan Jepang mulai dikenalkan Seineden, titik balik yang mengarusutamakan gerakan kepanduan sebagai barisan politik. Bahkan, pemerintah Jepang melalui Abdul Hamid Ono meminta Wahid Hasyim untuk mengerahkan pemuda santri masuk dalam Heiho sebagai tenaga serdadu cadangan untuk dikirim ke Birma dan kepulauan Pasifik.

Ada kecenderungan khusus dalam pemerintahan Jepang melihat paramiliter organisasi ini, yakni sebagai bagian dari membantu pertahanan tanah air dengan melakukan mobilisasi dan doktrinasi.

Maka saat Banser baru didirikan pada tahun 1962 – dengan cikal bakal embrio yang cukup panjang melalau laskar – kata barisan masih melekat. Meskipun Hairus Salim menolak bahwa pendirian Banser diperuntukkan melawan PKI. Karena menurutnya, hal tersebut tidak lebih dari sekadar momentum, dan dalam banyak hal hanya sebagai isu.

Sejarah ingatan ini yang kemudian sampai saat ini masih menjadi konstruksi imajinasi Banser seperti yang termaktub dalam slogan “NKRI harga mati” dan lain semacamnya. Konkretnya, sampai sekarang menjadi imajinasi yang harus dipertahankan karena bagaimanapun, masyarakat pesantren hingga nahdliyin mempunyai kepentingan dan tujuan.

Kepentingan dan tujuan, yang menurutnya harus dipertahankan, dari kelompok di luar (the other) NU. Diperlukan penjaga kepentingan dan tujuan dari pembelanya yang terpilih, kuat, muda dan militan (Kelompok Paramiliter NU, 2004).

Syuun Ijtimaiyah Ansor

Ingatan dan imajinasi yang disampaikan di atas, sebenarnya bisa disandarkan pada aktivisme lain dari organisasi yang berdiri pada tahun 1934 tersebut. Meskipun kesan paramiliter di tubuh Ansor melalui Banser tidak bisa ditepis dan masih menjadi identitas ‘unggulan’ masa kini, tetapi serangkaian aktivisme – juga konstruksi – menghidupkan ekonomi di tubuh Ansor juga sudah tumbuh sejak lama.

Aktivitas ekonomi seperti Nahdlatut Tujjar menjadi titik kesadaran penting aktivisme ekonomi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Atau pada tahun 1960-an, lebih spesifik dalam gerakan ekonomi Ansor, juga sudah dibentuk unit usaha bernama Yayasan Dharma Pemuda. Dan pada tahun 1980, saat Kongres ke-8 GP Ansor pada tahun 1980, kegiatan-kegiatan ekonomi disambut baik oleh pemerintah kala itu.

Saya dengan gembira, kata Adam Malik, mendukung niat dan keinginan GP Ansor dalam kongres ini memusatkan perhatiannya kepada usaha-usaha mengatasi permasalahan kesempatan kerja, kependudukan, lingkungan hidup dan pendidikan adalah hal penting perlu disambut dengan gembira.

Ingatan aktivisme ekonomi di dalam tubuh Ansor inilah yang tampaknya pada usia 92 tahun GP Ansor dinyalakan kembali, meminjam bahasanya Hairus salim sebagai imajinasi. Persinggungan GP Ansor dengan kelompok-kelompok profesional, ekonom, advokat dan beragam profesi lainnya – bahkan mereka juga tergabung sebagai kader – menjadi modal penting untuk menguatkan aktivisme ekonomi.

Kuat, muda, dan militan ini dikonversi ke dalam ruang-ruang ekonomi riil, terlepas untuk membantu pemberdayaan ekonomi kader secara spesifik, atau menggerakkan ekonomi masyarakat. Pendirian Badan Usaha Milik Ansor (BUMA), Patriot Ketahanan Panan, hingga Kelompok Usaha Gotong Royong yang menjadi ciri daripada gerakan Ansor hari ini, bisa menjadi tulang punggung aktivisme ekonomi.

Layaknya, apa yang kemudian dilakukan Lakpesdam PBNU dalam aktivitasnya setelah Muktamar NU 1984 di Situbondo dalam Rakyat Kecil, Islam dan Politik (Bruinessen, 2013), untuk memberi pelatihan dalam bidang manajemen dan kepemimpinan, mencoba menggairahkan aktivitas-aktivitas yang menghasilkan pendapatan dalam bidang pertanian dan industri rumah tangga, serta mendirikan koperasi.

Ekonomi, hingga saat ini, diakui atau tidak masih belum menjadi kesadaran sepenuhnya. Tetapi bukan berarti tidak mungkin, mimpi kemandirian ekonomi menjadi imajinasi aktivisme organisasi, sebagaimana dulu ingatan politik dan perjuangan kebangsaan yang sampai hari ini masih teguh dipegang? Dan bukan untuk dipertentangkan, melainkan diintegrasikan sebagai perluasan khidmah GP Ansor dalam bersatu, berperan untuk negeri.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan