Aku ingin menjadi santrimu yang hitam
Yang berbeda tidak demi terkenal
Tapi karena takut hidup
Hanya mengunyah pendapat orang
Sampai gemuk
Tanpa pernah melahirkan pikiran sendiri
PESANTREN ADALAH KONTER

Diganti dulu pelan-pelan kebiasaannya.
Tidurnya.
Lisannya.
Caranya marah.
Caranya memandang hidup.
Kadang ada santri yang mulai membaik.
Yang dulu suka membentak jadi lebih pelan saat bicara.
Yang dulu keras kepala mulai bisa mendengar.
Yang dulu cuma kenal dirinya sendiri mulai hafal cara menghargai orang lain.
Tapi kadang ada juga yang tetap rusak.
Sudah disampaikan nasihat.
Sudah diajak ngopi.
Sudah dipeluk doa-doa panjang setiap malam.
Tetap saja memilih menghancurkan dirinya sendiri.
Lalu suatu hari kopernya dijemput pulang.
Aku pernah mengira itu karena pesantren menyerah.
Ternyata tidak selalu begitu.
Kadang kerusakannya memang terlalu parah untuk ditangani ramai-ramai.
Perubahannya kecil-kecil.
Dulu aku gampang merasa paling benar.
Sekarang paling tidak aku mulai malu kalau merendahkan orang.
Jadi sejauh mana pesantren mengubahku?
Mungkin belum sejauh harapan ibu.
Belum sejauh doa-doa kiai.
Tapi paling tidak sekarang aku tahu,
ternyata yang paling susah diperbaiki bukan hp.
Melainkan manusia yang merasa dirinya tidak rusak apa-apa.
