Ketika santri-santri lain
Mengangguk pada kitab
Menghafal syarah demi syarah
Sampai leher dan badan pegal
Aku lebih memilih bertanya
“Kalau semuanya sama,
Siapa yang pertama kali membantah kemapanan?”
Katamu:
خَالِفْ تُعْرَفْ
Berbedalah
Nanti juga dikenal

Maka santri-santri mulai sibuk
Merapikan keanehan masing-masing
Ada yang memanjangkan opini
Sampai menyenggol langit-langit warung dan koperasi
Ada yang berdebat keras sekali
Padahal belum selesai membaca kaki-kaki
Ada juga yang sengaja melawan arus
Supaya namanya lewat di status-status
Ketika orang-orang lain menanam ilmu
Pelan-pelan
Sampai berbuah
Sebagian memilih menanam sensasi
Lalu memotretnya tiap pagi
Aku jadi curiga
Jangan-jangan kita terlalu sibuk terlihat berwarna
Sampai lupa menjadi yang benar-benar berguna
Padahal al-Hathi’ah dulu berkata
خَالِفْ تُذْكَرْ
Berbedalah supaya dikenang
Di antara gerombol manusia putih
Aku memang ingin berbeda
Aku ingin berbeda
Seperti jendela di tembok pengap
Seperti orang pertama
Yang bilang bumi pemikiran ini perlu dibuka
Bukan berbeda
Seperti kentut di sela pengajian
Keras bunyinya
Di antara gerombol santri putih
Bisakah aku tetap dipilih
Meski aku tidak pandai membuat sensasi?
