“Anak Bajang Menggiring Angin”: Kerendahatian Melawan Keangkaramurkaan

Orang Indonesia, khususnya yang tinggal dan dibesarkan di Jawa-Bali, nampaknya tidak asing lagi dengan kisah Ramayana. Bagi mereka yang pernah mengalami tahun-tahun 1990-an ke belakang umumnya juga akrab dengan pagelaran wayang semalam suntuk yang kadang lakonnya mengambil dari kisah Ramayana.

Rama-Sinta, dua tokoh dalam kisah tersebut, menjadi ikon cinta sejati yang suka disematkan dalam kisah-kisah percintaan. Versi ceritanya pun menjadi semakin beragam. Ada banyak versi yang terus bermunculan dengan didasarkan pada interpretasi yang berbeda-beda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Misalnya saja yang mengisahkan bagian akhir cerita tersebut; ada versi yang mengisahkan Sinta menolak kembali ke pelukan Rama setelah Rama meragukan kesuciannya saat menguji Sinta untuk masuk ke api pembakaran. Namun, ada juga versi yang mengisahkan Sinta kembali bersatu dengan Rama meskipun Rama menguji kesuciannya dengan upacara obong yang menyesakkan.

Belum lagi interpretasi tentang sosok Rahwana yang tak kalah beragam. Ada yang menggambarkan sosoknya sebagai raksasa mengerikan yang merepresentasikan kejahatan dunia. Ada pula yang menggambarkan Rahwana sebagai sosok yang lebih lembut dibandingkan yang selama ini dikenal oleh banyak orang.

Selain terus diceritakan kembali dalam bentuk cerita pendek atau novel, kisah Ramayana ini juga dialihwahanakan dalam berbagai bentuk seperti serial televisi, sendratari, serial wayang wong, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan