Novel Anak Bajang Menggiring Angin yang ditulis Sindhunata dan terbit pertama kali pada 1983 ini juga mengisahkan kembali cerita Ramayana dengan versi interpretasi yang cukup unik. Selain menceritakan alur seperti yang biasa kita kenal selama ini, narasi Sindhunata penuh dengan nilai-nilai filosofis dan petuah-petuah kebijaksanaan yang disarikan dari tokoh-tokoh dalam Ramayana tersebut.
Novel setebal 487 halaman ini merangkum bagaimana kejahatan lahir dalam bentuk Rahwana dan bagaimana kebaikan menghancurkannya dalam pimpinan Rama. Novel ini terdiri dari delapan bagian yang diawali dengan bagaimana kelahiran Rahwana beserta tiga saudaranya: Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana dari kegagalan Dewi Sukesi dan Begawan Wisrawa memahami Sastra Jendra, sebuah ilmu rahasia yang menguak tabir Ilahi. Alih-alih mendapatkan kesempurnaan hidup, Sukesi dan Wisrawa justru tenggelam ke dalam kenistaan yang tidak pernah mereka bayangkan sampai melahirkan empat anak yang menjadi perwujudan nafsunya.

Romo Sindhu, sapaan Sindhunata, menginterpretasikan kegagalan kedua orang tersebut mencapai kesempurnaan dalam upayanya memahami Sastra Jendra ini karena kesombongannya sendiri, yaitu meninggalkan variabel kepasrahan Ilahi dalam proses memahami Sastra Jendra sebagaimana dinarasikan sebagai berikut:
“Namun seharusnya kau tahu, hati manusia dalam badan jasmaninya itu demikian lemahnya. Budimu bisa membayangkan keluhuran apa saja, tapi serentak dengan itu hatimu bisa terjerumus ke dalam kenistaan tak terkira, seperti yang kau alami hari ini. Maka anakku, Sastra Jendra pada hakikatnya adalah kepasrahan hati pada ilahi, supaya yang ilahi menyucikannya. Kepasrahan hati itulah yang tak kau alami, ketika kau merasa memahami Sastra Jendra. Kau dihukum oleh kesombongan budimu sendiri, yang tidak mempedulikan jeritan hati dalam belenggu jasmaninya yang masih berdosa tapi ingin pasrah.” (hal. 28)
Bagian seterusnya dari novel ini mengisahkan kelahiran Anoman serta kemunculan beberapa tokoh penting yang turut berperan menumbangkan Rahwana, seperti Subali dan Sugriwa. Juga kemunculan Rama dari Ayodya yang terpaksa harus dibuang ke hutan Dandaka selama 13 tahun lamanya bersama istrinya, Sinta, dan adik kesayangannya, Laksmana karena salah seorang istri ayahnya, Kekayi, menginginkan tahta Ayodya untuk putranya Barata.
