Maka setiap 22 Oktober bukan sekadar peringatan. Ia adalah ajakan untuk menyalakan kembali api yang dulu dinyalakan oleh para kiai dan santri. Api itu mungkin kecil, tapi ia cukup untuk menerangi langkah bangsa ini menuju masa depan yang lebih bermartabat.
Selama masih ada santri yang belajar dengan hati, guru yang mengajar dengan keikhlasan, dan umat yang mencintai negerinya dengan iman, maka api dari pesantren itu tidak akan pernah padam. Ia akan terus hidup dari generasi ke generasi, menyalakan semangat jihad dalam bentuk yang paling luhur, yaitu jihad untuk ilmu, kemanusiaan, dan keutuhan Indonesia.

