Evolusi pemikiran Asrul Sani (yang lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926, dan meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004) tidak tumbuh seperti garis linier yang dingin, melainkan seperti lingkar usia yang terus membuka cakrawala batin baru (lihat Diagram 2). Jika perjalanan pikiran Asrul Sani kita bentangkan sebagai garis usia, maka tampak bagaimana usia bukan sekadar angka, melainkan juga wadah bagi kedalaman batin yang terus tumbuh.

1950 — Layar Pembebasan: ketika menyusun Surat Kepercayaan Gelanggang pada 1950, ia baru berusia 24 tahun —seorang intelektual muda pascarevolusi yang masih menjadikan kebebasan individu sebagai titik tolak pencarian makna. Semangatnya adalah semangat generasi yang baru merdeka: membebaskan diri dari feodalisme lama dan menolak keterkurungan tradisi, tanpa merasa resah terhadap absennya agama dalam wacana kebudayaan.

1962 — Titik Balik Iman: dua belas tahun kemudian, pada usia 36 tahun, ia ikut mendirikan Lesbumi (1962). Di fase inilah kebebasan mulai mencari akar: pengalaman hidup, tanggung jawab sosial, dan perjalanan spiritual (terutama haji 1963) membuatnya menyadari bahwa kebudayaan tanpa fondasi iman akan kehilangan arah. Dalam masa transisi ini, agama tidak lagi sekadar latar kultural, tetapi sumber nilai yang harus hadir dalam praksis kebudayaan.
1966 — Ruh sebagai Kompas Pelayaran: ketika menulis Surat Kepercayaan 1966, pada usia 40 tahun, pandangannya telah memasuki fase kontemplatif, masa yang sudah matang. Ia tidak lagi sekadar merespons dominasi ideologi, tetapi menegaskan peran agama sebagai ruh pemersatu kebudayaan —terutama ketika Lekra dan arus sekular mencoba menyingkirkan agama itu sendiri. Dengan demikian, jalan wasatiah Asrul Sani lahir bukan dari kompromi instan, tetapi dari kematangan batin yang tumbuh bersama pengalaman zaman dan pertumbuhan usianya.
Surat Kepercayaan Gelanggang 1950: Layar Pertama Wasatiah Kebudayaan
Kebudayaan Indonesia modern adalah sebuah pelayaran panjang: lautan ide dan iman yang tak pernah tenang. Di atas geladaknya, para penyair, pemikir, dan budayawan berlayar dengan kapal yang berbeda-beda, membawa arah dan keyakinan masing-masing. Ada yang berangkat dengan dayung rasionalitas; ada yang berlayar dengan layar ideologi; ada pula yang berlayar dengan kompas nurani. Gejolak zaman kerap mengguncang mereka —antara keinginan untuk menjadi modern dan kerinduan untuk tetap berakar, antara cita-cita kebebasan dan panggilan iman. Dalam pelayaran yang penuh badai itu, Asrul Sani tampil sebagai nakhoda yang mencari keseimbangan, menolak karam di ekstrem mana pun. Ia tidak menolak angin perubahan, tetapi menegakkan tiang layarnya dengan tali tradisi dan tambang kesadaran spiritual. Di tengah riuhnya seruan ideologi, Asrul mengajarkan bahwa kebudayaan sejati adalah perjalanan batin yang tak pernah berhenti mencari rumah di antara gelombang zaman.
Pada dekade 1930-an, ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda, perdebatan besar mengguncang laut intelektual dan seniman. Polemik Kebudayaan —yang dimulai oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan dijawab oleh Sanusi Pane, Ki Hadjar Dewantara, dan tokoh-tokoh lain— menjadi arena tempat bangsa muda Indonesia merumuskan jati dirinya. Takdir, dengan semangat modernisnya, menyerukan perlunya meninggalkan “jiwa lama” yang dianggap mistik, statis, dan irasional, untuk memasuki dunia rasionalitas dan kemajuan Barat. Ia percaya bahwa masa depan Indonesia hanya bisa dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan, individualisme, dan kebebasan berpikir.
Namun Sanusi Pane dan para pembela “jiwa Timur” menolak gagasan itu. Mereka melihat kebudayaan bukan semata sistem nilai, tetapi nafas spiritual bangsa. Bagi Sanusi, modernitas tanpa jiwa adalah kekosongan: Barat memang unggul dalam ilmu dan teknologi, tetapi kehilangan keseimbangan batin. Timur, sebaliknya, kaya akan spiritualitas namun kurang dalam rasionalitas. Maka yang dibutuhkan bukan penolakan terhadap salah satu, melainkan sintesis antara keduanya —paduan ilmu dan jiwa, rasio dan rasa, akal dan iman. Polemik itu menjadi cermin pertama dari kegelisahan mendasar mengenai arah kebudayaan Indonesia: bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan ruh.
Dari pertarungan ide tersebut lahir kesadaran baru tentang posisi seniman dan intelektual Indonesia di tengah arus globalisasi budaya. Dua dekade kemudian, generasi muda yang lahir dari pengalaman kemerdekaan —Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin, dll.— menulis Surat Kepercayaan Gelanggang (1950) sebagai suara generasi baru. Mereka adalah anak-anak dari Polemik Kebudayaan, yang mewarisi kontroversi antara rasionalitas Barat dan spiritualitas Timur, namun mereka memilih jalan lain: menegaskan kebebasan individu untuk mencipta, tanpa beban ideologi Timur atau Barat. Surat itu bukan hanya pernyataan estetika, tetapi manifestasi dari pergulatan panjang bangsa ini mencari bentuk jiwanya sendiri di antara dua kutub peradaban yang terus berdebat sejak Polemik Kebudayaan dicanangkan.
Demikianlah pelayaran Asrul Sani dimulai dari dermaga Gelanggang —sebuah lingkaran kecil seniman muda Jakarta yang merespons Polemik Kebudayaan. Di tengah gegap-gempita revolusi yang baru usai, surat itu seperti bendera yang dikibarkan di buritan kapal: tanda bahwa mereka, generasi pasca-kemerdekaan, hendak berlayar dengan kompas sendiri. “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia,” tulis mereka, menegaskan kebebasan individu untuk mencipta, tanpa beban ideologi Timur atau Barat. Mereka melanjutkan bahwa warisan itu akan mereka teruskan dengan cara mereka sendiri —dengan puisi, dengan film, dengan teater, dengan pemikiran yang tidak tunduk pada kutub mana pun.
Surat itu bukan hanya pernyataan estetika, melainkan juga manifestasi dari pergulatan panjang bangsa ini mencari bentuk jiwanya sendiri di antara dua kutub peradaban yang terus berdebat sejak Polemik Kebudayaan. Asrul Sani, konseptor Surat Kepercayaan Gelanggang, menolak segala bentuk dogma —baik agama, adat, maupun ideologi— yang dianggap membatasi kebebasan rohani seniman. Bagi mereka, bangsa yang baru merdeka harus melahirkan manusia merdeka: manusia yang berpikir, merasa, dan mencipta tanpa dikungkung otoritas lama. Dalam arti itu, Surat Kepercayaan Gelanggang dapat disebut sebagai manifestasi paling jujur dari humanisme eksistensial dalam kebudayaan Indonesia. Mereka bukan sekadar menuntut kedaulatan individu dan kebebasan berekspresi, melainkan juga menegaskan martabat manusia sebagai pusat makna dunia pascakolonial.
Sebagai bangsa yang baru merdeka, mereka mencari definisi dan identitas keindonesiaan yang belum sempat dipahat sejarah. Kemerdekaan politik memang sudah diproklamasikan, namun hal itu ternyata belum cukup. Mereka haus akan kemerdekaan jiwa, akan bahasa batin yang mampu menamai diri mereka sendiri di antara bayang-bayang penjajahan dan cumbu-rayu modernitas. Dalam spirit itu, mereka menulis, “Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang…, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.” Kalimat itu bukan sekadar deklarasi estetika, melainkan pernyataan eksistensial: bahwa menjadi Indonesia berarti berpikir, merasa, dan berkarya dari kedalaman pengalaman manusia yang bebas. Keindonesiaan bukanlah warisan biologis atau geografis, melainkan pencapaian spiritual dan intelektual yang lahir dari keberanian menafsirkan dunia dengan suara sendiri.
Dalam semangat wasatiah kebudayaan dan pencarian identitas keindonesiaan itulah, bagi mereka, revolusi belum selesai. Kemerdekaan yang baru diraih hanyalah pembuka bab pertama dari perjuangan yang lebih halus namun lebih dalam: revolusi nilai dan kesadaran. Nilai-nilai lama yang usang —yang menindas kebebasan berpikir dan mematikan daya cipta— harus dihancurkan, sementara nilai-nilai baru yang relevan dengan kemanusiaan dan kemerdekaan batin harus ditegakkan. Bagi generasi Gelanggang, revolusi sejati bukan sekadar mengganti penguasa, melainkan juga membebaskan cara berpikir dari penjajahan lama: ketakutan terhadap perubahan dan keengganan untuk berpikir mandiri. Dalam arus itulah, Asrul Sani dan kawan-kawan mencoba membangun jembatan antara masa silam dan masa depan, antara iman dan rasio, agar kebudayaan Indonesia tumbuh bukan dari kemarahan, tetapi dari kesadaran yang matang dan merdeka.
Seperti halnya rekan-rekan segenerasinya, Asrul Sani hidup di masa ketika ideologi menjadi semacam agama baru. Ia menulis dengan gairah revolusi, namun di dalam gairah itu tersembunyi kegalauan yang gelisah. Sebab, kebebasan yang dipuja tanpa arah, lambat laun akan berubah menjadi kebingungan. Surat Kepercayaan Gelanggang yang semula mengandung optimisme eksistensial perlahan tampak kehilangan fondasi etisnya, ketika ideologi-ideologi besar mulai menenggelamkan individu. Dari titik itulah pelayaran Asrul Sani terus bergerak, meneruskan pelayaran menuju pelabuhan baru bagi iman yang lebih dalam dari sekadar kebebasan, tak hanya di meja teoritis, melainkan juga di pelataran praksis. Baginya, ini babak baru di pelayaran selanjutnya.
Lesbumi 1962: Layar Kedua Wasatiah Kebudayaan
Lahirnya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950 membuka babak baru dalam sejarah pergulatan kebudayaan Indonesia. Organisasi yang berdiri di bawah naungan rindang Partai Komunis Indonesia (PKI) ini tumbuh dengan cepat, menancapkan akar-akar ideologinya ke dalam tanah sosial yang subur oleh semangat revolusi. Dengan semboyan “politik adalah panglima”, Lekra menempatkan seni dan kebudayaan sebagai alat perjuangan kelas, bukan sebagai ruang ekspresi bebas.
Dalam konteks itulah, Lesbumi tidak hanya lahir sebagai penyeimbang antara iman dan kebebasan kreatif, tetapi juga sebagai respons terhadap kecenderungan antiagama dalam tubuh Lekra. Realisme sosialis yang menguasai wacana kebudayaan waktu itu bukan sekadar menundukkan seni di bawah telapak kaki politik, tetapi juga berupaya menyingkirkan agama dari ruang kebudayaan. Di titik inilah Asrul Sani membaca bahaya yang lebih dalam: hilangnya ruh iman dalam tubuh kebudayaan nasional ketika ideologi mulai menggantikan agama sebagai sumber makna.
Para seniman diarahkan untuk berpihak, untuk menjadikan karya mereka sebagai senjata ideologis melawan penindasan. Dalam waktu relatif singkat, Lekra menjadi kekuatan kultural yang tangguh, tetapi sekaligus menimbulkan ketegangan baru: seni yang seharusnya membebaskan justru mulai dikawal oleh pecut politik yang keras. Di sinilah perdebatan besar tentang hakikat kebudayaan Indonesia kembali berkobar —antara mereka yang melihat seni sebagai alat perjuangan, dan mereka yang melihatnya sebagai nafas kemanusiaan yang otonom.
Dalam situasi seperti itu, Asrul menyadari bahwa kebebasan tanpa akar akan kehilangan arah, sementara iman tanpa keberanian akan membeku menjadi doktrin. Maka, ketika badai ideologi mulai mengguncang perahu kebudayaan Indonesia pada akhir 1950-an, Asrul Sani menurunkan layarnya dari kapal Gelanggang, dan kembali menaikkan layar di kapal yang lain: Lesbumi. Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) berdiri pada 1962 di bawah naungan NU, saat gelombang Lekra dan realisme sosialis tengah menguasai samudra kebudayaan nasional. Di situ, Asrul tidak hadir sebagai mubalig atau politisi, melainkan sebagai navigator: ia memahami bahwa kebebasan yang pernah dipuja di Gelanggang hanya bisa menemukan makna sejatinya bila berakar pada iman. Dan, di tengah gejolak perang ideologi, dia harus turun ke praksis medan pertarungan.
Lesbumi bukan sekadar tandingan ideologis Lekra. Ia adalah usaha untuk mengembalikan ruh pada kebudayaan yang mulai kehilangan jiwanya. Bagi Asrul, seni yang baik bukanlah seni yang tunduk pada doktrin politik, tapi juga bukan seni yang mengambang di langit estetika tanpa komitmen moral. “Menciptakan sesuatu yang bernilai seni dan budaya yang dituntun oleh ajaran Islam,” demikian bunyi salah satu pasal Anggaran Dasar Lesbumi. Dalam spirit Lesbumi, iman bukan lembaga sensor, melainkan sumber nilai. Ia bukan pagar, melainkan mata air yang membuat ekspresi manusia tetap segar dan jernih. Maka Asrul, yang dulu menulis “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia”, kini menulis dengan kesadaran baru, bahwa menjadi ahli waris berarti juga menjaga amanah ilahi dalam sejarah kebudayaan itu sendiri.
Asrul Sani menulis pengalamannya naik haji pada tahun 1963. Ia mengakui bahwa meskipun di masa kecilnya mendapatkan pendidikan agama yang baik, ia bukan orang yang taat beragama. Namun pengalaman naik haji itu, yang semula ia jalani agak setengah hati, menjadi titik balik kesadaran spiritualnya. Dia menulis, “… banyak waktu yang sudah saya habiskan bersama-sama dengan orang-orang yang saya kasihi, tapi belum pernah waktu-waktu itu dapat memberikan kebahagiaan yang begitu lengkap seperti yang saya alami kala [duduk di Hijir Ismail] itu.” Inilah titik terkuat dorongan religiusnya berkiprah di Lesbumi. Pengalaman haji itu membuka kesadarannya bahwa iman tidak hanya dapat dipelajari, melainkan juga harus dialami secara utuh. Sejak saat itu, arah spiritual Asrul menjadi lebih nyata, mengikat antara pengalaman pribadi dan tanggung jawab kebudayaan yang ia emban.
Di dalam Lesbumi, Asrul Sani menemukan bentuk Islam yang sepadan dengan kepribadiannya: Islam yang tidak puritan, tetapi penuh kesadaran estetis; Islam yang tidak menutup diri dari dunia, tapi menimbang dunia dengan kebijaksanaan. Bersama Djamaluddin Malik, Usmar Ismail dll., ia menegakkan posisi Islam dalam percakapan kebudayaan nasional, tanpa harus menjadi antimodern. Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani adalah trimurti pendiri Lesbumi. Di tangan mereka, Lesbumi tampil sebagai laboratorium wasatiah —keseimbangan antara iman dan kebebasan, antara akidah dan ekspresi, antara tradisi dan pembaruan, antara transendensi dan sejarah.
Sebagai respons terhadap Lekra yang terutama dipandang antiagama, Lesbumi maju ke tengah medan pertarungan membawa spirit Islam yang lantang dan penuh keyakinan. Di sinilah para seniman dan budayawan Muslim menemukan kembali landasan religius mereka, bukan sekadar sebagai panggilan moral pribadi, melainkan juga sebagai tuntutan moral-politik kebudayaan. Bagi mereka, seni yang beriman bukan berarti seni yang dogmatis, melainkan seni yang menegakkan martabat manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial sekaligus. Lesbumi menegaskan Islam bukan hanya sebagai sumber nilai kreatif, tetapi juga sebagai penegasan kembali keberadaan agama ketika peran agama sedang dinihilkan oleh kekuatan ideologis seperti Lekra.
K.H. Abd. Wahab Hasbullah. K.H. Idham Chalid. K.H. Saifuddin Zuhri. Asrul Sani. Mereka adalah di antara figur-figur yang menjadikan Lesbumi bukan sekadar lembaga tandingan terhadap Lekra, melainkan juga sebagai wadah pencarian bentuk kebudayaan yang utuh —yang menggabungkan kebebasan ekspresi dengan kesadaran ilahiah. Dalam karya dan gagasan mereka, iman tidak mengurung kreativitas, justru menjadi sumber tenaga batin yang memperdalam makna kemerdekaan. Lesbumi hadir bukan untuk memerangi seni dengan dalil agama, melainkan untuk mengingatkan bahwa tanpa dimensi spiritual, kebudayaan mudah kehilangan arah dan jiwanya.
