Dalam pada itu, mereka bagaimanapun adalah generasi Angkatan ’45 —generasi yang tumbuh dalam kobaran revolusi dan mewarisi vitalitas hidup yang menyala. Mereka bukan hanya pewaris kemerdekaan politik, tetapi juga pembawa semangat pembaruan kebudayaan yang berpijar di dada para penyair, sutradara, seniman, dan pemikir muda Indonesia. Maka, di bawah pertempuran ideologi politik kebudayaan yang kian sengit melawan Lekra, sementara para kiai NU memompakan roh keislaman dan keimanan dalam Lesbumi, para seniman meniupkan nafas estetika dan vitalitas kreatif. Pertemuan keduanya melahirkan denyut baru: Islam tidak hadir sebagai kekuatan yang membatasi seni, melainkan sebagai sumber energi spiritual yang menyuburkan kebudayaan. Dalam ruang perjumpaan itu, Lesbumi menjadi lebih dari sekadar lembaga. Ia menjadi laboratorium kebudayaan tempat iman dan imajinasi berdialog, di mana zikir dan puisi, doa dan film, azan dan teater, dapat bertemu tanpa saling meniadakan. Dari sana, kebudayaan Indonesia bernafas dengan irama yang lebih manusiawi: tidak lagi tunduk pada ideologi, tetapi juga tidak tercerabut dari iman.
Di luar arena pertarungan politik kebudayaan yang keras dan sering kali bising itu, Lesbumi sebenarnya hadir sebagai ruang eksperimen perjumpaan —perjumpaan yang jarang dibicarakan secara mendalam. Yakni perjumpaan antara tradisionalisme dan modernisme dalam tubuh kebudayaan Islam Indonesia. Ia bukan sekadar wadah tandingan terhadap Lekra, melainkan laboratorium sosial dan spiritual tempat nilai-nilai lama bertemu dengan aspirasi baru. Kesenian memang telah lama hidup di lingkungan NU: dalam irama hadrah dan diba’, dalam syiiran yang menggetarkan, dalam gerak silat yang mengandung filosofi ruhani. Namun seni-seni itu tumbuh di ruang tradisi, bukan di panggung modern yang menuntut bentuk-bentuk ekspresi baru seperti film, teater, dan sastra modern. Melalui Lesbumi, jembatan mulai dibangun —antara langgar dan panggung, antara pesantren dan layar lebar— untuk menunjukkan bahwa iman tidak kaku menghadapi perubahan, dan bahwa tradisi bukanlah beban, melainkan sumber energi kreatif untuk menafsir ulang zaman.

Dari Gelanggang ke Lesbumi, Asrul menempuh perjalanan spiritual yang diam-diam monumental: dari iman kepada manusia menuju iman yang menuntun manusia. Ia tidak meninggalkan modernitas, tapi menempatkannya dalam orbit ketuhanan. Dalam arus deras Lekra yang memuja massa, Asrul Sani harus menjaga pendirian moderasi kebudayaannya: iman yang berpikir, dan akal yang beriman. Di sanalah pelayaran kebudayaan Indonesia menemukan kompasnya. Di tangan Asrul Sani, NU —yang ketika itu merupakan partai politik— bukan lagi penonton di tepi gelanggang perseteruan ideologi politik kebudayaan ini, melainkan juga pelaut yang ikut menavigasi arah zaman. Maka, wasatiah Asrul di Lesbumi tidak berhenti pada sintesis iman dan modernitas, tetapi juga menjadi artikulasi religius yang menegaskan kembali hak agama untuk hadir dalam kebudayaan —tepat ketika Lekra berusaha menyingkirkannya.
Surat Kepercayaan 1966: Layar Ketiga Wasatiah Kebudayaan
Bagi Asrul, ancaman utama bukan hanya subordinasi seni oleh ideologi, melainkan juga —dan terutama— lenyapnya agama dari wacana kebudayaan. Ketika Lekra menempatkan agama sebagai residu masa lampau yang harus ditanggalkan, Asrul justru menegaskan kembali fungsi agama sebagai sumber makna terdalam kebudayaan.
Dari jurusan lain, di tengah arena pertarungan politik kebudayaan yang semakin keras dan menegangkan, muncul Manifes Kebudayaan pada tahun 1963. Dokumen ini lahir sebagai respons intelektual dan ideologis terhadap dominasi Lekra yang kian mencengkeram dunia kesenian Indonesia, dengan pengaruhnya yang menjalar dari panggung teater hingga ruang redaksi surat kabar. Semboyan “politik adalah panglima” telah menjadikan seni sebagai instrumen perjuangan kelas, sehingga ruang kebebasan kreatif semakin menyempit. Para penandatangan Manifes Kebudayaan —dari Wiratmo Soekito hingga H.B. Jassin— berdiri di sisi yang berbeda, menyerukan apa yang kelak disebut humanisme universal. Mereka juga menolak subordinasi seni di bawah telapak kaki ideologi politik. Pertarungan pun tak lagi sekadar intelektual, melainkan eksistensial: soal bagaimana manusia memaknai kebebasan dan tanggung jawab dalam kebudayaan yang sedang mencari jati dirinya.
Perseteruan kian sengit, seakan kebudayaan telah berubah menjadi medan tempur ideologi yang tak mengenal kompromi. Lambat-laun, perbedaan gagasan itu mengeras menjadi polarisasi yang tegas: di satu sisi berdiri Lekra dengan semboyan “politik adalah panglima,” dan di sisi lain kaum Manifestan yang mengibarkan panji “humanisme universal”. Pertentangan itu bukan hanya soal teori seni, tetapi juga tentang pandangan hidup —tentang apakah manusia harus tunduk pada ideologi kolektif atau diberi kebebasan untuk berpikir dan berkreasi secara otonom. Surat kabar, forum, dan panggung kesenian berubah menjadi arena perdebatan terbuka yang sering disertai tudingan dan peminggiran. Dalam suasana yang panas itu, banyak seniman terpaksa memilih kubu, seolah netralitas adalah pengkhianatan.
Namun di tengah badai polarisasi itu, Asrul Sani tetap berlayar dengan arah sendiri —menolak dikurung oleh ideologi mana pun, mencari jalan tengah yang menjunjung kebebasan, iman, dan kemanusiaan sebagai inti kebudayaan. Dia tetap menjaga jarak, memilih jalan wasatiah, tempat seni dan iman dapat berdialog tanpa saling menundukkan. Dan di sinilah terletak arti penting Asrul Sani: menggarisbawahi peran iman dalam kebudayaan. Dalam pandangannya, iman bukanlah penghalang kreativitas, tetapi sumber kedalaman dan keseimbangan batin yang menjaga manusia dari kesombongan intelektual maupun kekosongan spiritual. Ia memahami bahwa kebebasan tanpa iman bisa kehilangan arah, sementara iman tanpa kebebasan bisa membatu menjadi dogma. Karena itu, Asrul memandang kebudayaan sebagai wilayah pertaruhan rohani manusia —tempat akal, rasa, dan keyakinan bersatu dalam pencarian makna yang tak pernah selesai.
Dalam konteks itulah, pada tahun 1966 Asrul Sani menulis Surat Kepercayaan, sebuah refleksi tajam sekaligus respons terhadap ketegangan dua kubu kebudayaan yang terus berseteru: Lekra dan kaum Manifestan. Ia menolak prinsip “seni untuk seni” yang dianggap terlalu individualistis dan menjauh dari tanggung jawab sosial, namun juga menentang semboyan “politik adalah panglima” yang menundukkan seni di bawah ideologi kekuasaan. Surat Kepercayaan 1966 lahir sebagai upaya menemukan jalan ketiga —sebuah keseimbangan baru di tengah kelelahan sejarah akibat tarik-menarik ideologis yang tak kunjung usai.
Di sana, Asrul melihat gejala yang lebih mendasar dari sekadar konflik politik kebudayaan: absennya agama dalam kehidupan intelektual dan kultural bangsa. “Kita melihat kecondongan sekularisasi yang ekstrem dan peremehan agama,” tulis Surat itu, menandai keresahan batin seorang seniman yang menyadari bahwa kebudayaan tanpa dimensi spiritual hanyalah tubuh tanpa jiwa, jasad tanpa roh. Di titik ini Asrul Sani sekali lagi mengibarkan layar dan turun ke geladak kapal intelektualnya. Melalui Surat Kepercayaan, dia mengajak generasinya untuk menengok kembali sumber makna terdalam kebudayaan. Pada hakikatnya, iman adalah fondasi yang memberi arah dan ruh bagi kebebasan manusia.
Lebih jauh, Surat Kepercayaan menegaskan satu pandangan yang sangat khas dalam perjalanan intelektual Asrul Sani, yaitu —dalam kata-katanya sendiri— “Agama sebagai kesatuan yang merupakan pengikat dan memberi bentuk batin kesatuan kebudayaan.” Dalam pernyataan itu, Asrul tidak sedang mengajak seni untuk menjadi alat dakwah, melainkan menempatkan agama sebagai dimensi batin yang menyatukan keragaman ekspresi manusia dalam satu horison makna. Baginya, kebudayaan bukan hanya hasil kerja rasio dan estetika, tetapi juga pancaran ruh yang menuntun manusia untuk memahami dirinya dan dunianya dengan rasa tanggung jawab spiritual.
Karena itu, Surat Kepercayaan ditutup secara eksplisit dengan kutipan ayat Al-Qur’an, Surat Ali Imran (3):112: “Mereka ditimpa kehinaan di mana saja ditemukan, kecuali kalau mereka berpegang pada tali Allah dan tali manusia.” Pilihan ayat ini bukan hiasan simbolik, melainkan pernyataan posisi: bahwa kebudayaan akan kehilangan martabatnya jika tercerabut dari kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Dalam simpul dua tali itu —tali Allah dan tali manusia— Asrul menemukan formula wasatiah kebudayaan: keseimbangan antara transendensi dan sejarah, antara langit nilai dan bumi pengalaman. Ayat tersebut menjadi semacam kesimpulan spiritual dari seluruh pergulatan intelektualnya, semacam kredo bahwa kebudayaan yang sejati hanya mungkin tumbuh di bawah bimbingan iman yang mencerahkan, bukan membelenggu. Ia menegaskan bahwa manusia yang berbudaya tidak hanya mencipta keindahan, tetapi juga menjaga kemuliaan, karena dalam setiap karya yang benar, tersimpan tanggung jawab terhadap Tuhan dan sesama manusia.
Penting dicatat bahwa Surat Kepercayaan 1966 dipublikasikan di majalah Gelanggang, No. 1, Th. 1, Desember 1966 (Djakarta: Jakmi-Lesbumi). Fakta ini mengandung makna simbolik yang dalam: seakan Asrul Sani membawa kembali roh Gelanggang Seniman Merdeka —yang dulu ia dirikan bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin pada 1950— ke dalam rumah baru bernama Lesbumi. Jika Gelanggang 1950 menandai kelahiran kesadaran kebudayaan Indonesia yang merdeka dari dikotomi Barat–Timur, maka Gelanggang 1966, yang diterbitkan Lesbumi, menandai fase kedewasaan spiritual dari kesadaran itu: kesadaran bahwa kemerdekaan sejati mesti berakar pada nilai-nilai iman dan tanggung jawab moral.
Di tangan Asrul, Gelanggang —yang diterbitkan Lesbumi itu— tidak hanya berubah menjadi medium ekspresi seni, melainkan juga menjadi ruang perenungan tentang hubungan antara iman, kebebasan, dan kebudayaan. Publikasi Surat Kepercayaan di majalah Gelanggang memperlihatkan kesinambungan antara dua zaman —antara idealisme seniman merdeka dan cita-cita kebudayaan Islam yang terbuka— yang keduanya diikat oleh satu ruh: jalan wasatiah yang Asrul Sani tempuh dengan tenang dan konsisten di tengah gelombang ekstremisme kebudayaan pada zamannya. Dan itu adalah juga evolusi kesadaran kebudayaan Asrul Sani dalam perjalanan intelektual sepanjang karier kebudayaannya.
Refleksi untuk Hari Ini
Dalam seluruh lintasan hidup intelektualnya, Asrul Sani senantiasa mencari keseimbangan: antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas, antara iman dan kebebasan. Ia tidak pernah terjebak dalam titik ekstrem, tidak pula tenggelam dalam arus tunggal zaman. Dengan lensa retrospektif, kita melihat bahwa jalan yang ditempuh Asrul Sani bukan sekadar jalan pribadi, melainkan arah sejarah kebudayaan Indonesia yang mencari kebijaksanaan di tengah riuh ideologi —suatu jalan wasatiah yang tak ia sebutkan, tapi ia jalani dengan penuh kesadaran.
Dari Surat Kepercayaan Gelanggang (1950) yang menggugat feodalisme lama, ke Lesbumi (1962) yang memperjuangkan religiusitas dalam kebudayaan, hingga Surat Kepercayaan (1966) —yang lahir pascatragedi berdarah 1965— yang menyerukan iman sebagai dasar kemanusiaan baru, Asrul Sani menempuh perjalanan panjang menuju sintesis yang khas Indonesia. Dia tidak menolak modernitas, tetapi juga tidak menuhankan rasionalitas; dia tidak menafikan iman, tetapi juga tidak menjadikannya alat kekuasaan. Di sanalah wasatiah Asrul Sani berakar: di titik tengah antara ekstrem ideologi, di pusat gelombang kebudayaan yang terus mencari keseimbangannya sendiri.
Sebagai tokoh Lesbumi —Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia— Asrul Sani menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar alat perjuangan politik, melainkan ruang pertemuan antara iman dan akal, antara tradisi dan modernisasi. Dia tidak menolak modernitas, tapi juga tidak tunduk padanya. Dia menegosiasikannya dengan elegan: seperti penyair yang menyadari bahwa iman dan kebebasan bukan dua kutub yang harus bertarung, melainkan dua sayap yang membuat kebudayaan bisa terbang. Karena itu, keberadaan Asrul Sani menempatkan NU dalam lanskap sejarah intelektual Indonesia bukan hanya sebagai penjaga tradisi, melainkan juga sebagai penafsir zaman. Melalui dirinya, NU tidak sekadar berdiri di tepi gelanggang, melainkan ikut bertarung dalam inti debat intelektual kebudayaan modern —dan dari sana, menyalakan kembali api kebijaksanaan Islam di jantung modernitas Indonesia.
Sampai di sini, ingatan kita tertumbuk pada sosok K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia adalah figur wasatiah yang paling kentara di ranah agama, politik, maupun kebudayaan. Dalam banyak hal, Gus Dur dapat dibaca sebagai penerus tak langsung dari jalan moderasi kebudayaan Asrul Sani. Bila Asrul datang dari lanskap kebudayaan modern lalu memasuki wilayah tradisionalisme Islam melalui Lesbumi dan NU, maka Gus Dur bergerak dari arah sebaliknya: ia lahir dan dibesarkan dalam tradisi pesantren, tetapi menembus ruang-ruang modernitas kebudayaan Indonesia. Jabatan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada masa Orde Baru bukan sekadar peran administratif, tetapi simbol perjumpaan antara tradisi keislaman dan kosmopolitanisme kebudayaan. Dengan demikian, keduanya memperlihatkan dua arus yang bertemu di satu muara: bahwa kebudayaan tidak harus dipertentangkan dengan agama, dan bahwa moderasi bukan posisi diam di tengah, melainkan keberanian menembus batas-batas yang selama ini dianggap saling menegasikan.
Namun, Asrul Sani adalah juga simbol ironi intelektual dalam sejarah pemikiran kebudayaan Indonesia. Dia berdiri di antara dua dunia yang saling meniadakan —dunia iman yang bersikap sangat hati-hati terhadap kebebasan berpikir, dan dunia intelektual modern yang tak percaya sepenuhnya pada bahasa iman. Demikianlah dalam perkembangan kemudian, Asrul Sani seakan hilang dalam ingatan NU, tempat dulu dia berkiprah melalui Lesbumi. Pada saat yang sama, Lesbumi-NU pun hilang dalam ingatan sejarah intelektual kebudayaan Indonesia modern, padahal kehadirannya begitu nyata dalam hiruk-pikuk kebudayaan tanah air. Dalam konteks ini, kita seakan mengidap amnesia sejarah.
Bagi kita hari ini, absennya Asrul Sani dari ingatan NU, dan absennya Lesbumi-NU dari ingatan sejarah intelektual kebudayaan Indonesia, adalah kehilangan besar —kehilangan yang terasa senyap tapi dalam, seperti sebuah ruang kosong di tengah rumah yang dulu ramai oleh percakapan. Hilangnya Asrul berarti hilangnya jejak upaya paling cerdas untuk menempatkan iman di tengah wacana modernitas tanpa menjadi dogmatis. Hilangnya Lesbumi berarti hilangnya jembatan antara tradisionalisme Islam dan modernisme kebudayaan Indonesia.
Lupa pada Asrul Sani berarti lupa pada salah satu bukti paling cemerlang bahwa NU pernah berkiprah dalam medan kebudayaan modern dengan cara yang sangat visioner. Melalui Lesbumi, ia memperlihatkan bahwa iman dapat berjalan seiring dengan kebebasan, dan bahwa kebudayaan adalah cara bangsa ini berdoa dalam bahasa zaman. Mengingat Asrul Sani hari ini adalah undangan untuk merevitalisasi warisan kebudayaan religiusnya — bukan hanya melalui dakwah, tetapi juga lewat seni dan pemikiran. Dan, mengingat Asrul berarti juga mengingat wajah kebudayaan Indonesia yang paling jernih —tenang, dalam, di tengah gelombang.
Cinangka, 20 Oktober 2025.
*Artikel ini merupakan naskah orasi kebudayaan Jamal D. Rahman dalam acara Semaan Puisi dan Haul Sastrawan 2025 yang dilaksanakan di Makara Art Center Universitas Indonesia, Selasa (18/10/2025). Naskah ini diterbitkan bersama lima esai lain dalam buku digital untuk acara tersebut, dan diterbitkan di laman duniasantri.co secara bersambungan. Keenam naskah dalam buku ini adalah “Surat Semaan Puisi: dari Gelanggang ke Adakopi” oleh Mahwi Air Tawar, “Semaan Puisi: Melarikan dari Media Sosial, Kok Malah Ngurusi Mayat Penyair?” oleh Angin Kamajaya, “Asrul Sani: Jalan Wasatiah Kebudayaan Indonesia” oleh Jamal D Rahman, “Lesbumi dan Revitalisasi Seni Budaya Pesantren” oleh Ngatawi Al-Zastrouw, “Kreator Jalan Ketiga yang Terlupakan: Refleksi Identitas Intelektual Asrul Sani” oleh Andy Lesmana, dan “Yang Mengusik Takdir” oleh Mukhlisin Ashar.
