Bahasa Arab adalah bahasa universal yang dalam konteks Indonesia berperan sebagai bahasa dakwah. Meskipun bahasa Arab identik dengan Islam karena bahasa Al-Qur’an dan bahasa masyarakat awal Islam yang dibawa Nabi Muhammad, bukan berarti yang berbahasa Arab secara otomatis lebih islami daripada yang berbahasa Madura atau bahasa lainnya.
Dari potret pesantren, kita belajar satu hal penting: santri sangat akrab dengan anjuran memakai gamis atau pakaian putih, namun mereka tetap identik dengan sarung dan peci hitam. Bahkan, banyak kiai yang nyaman hanya dengan kaus oblong dan sarung. Ini adalah pelajaran bahwa berpakaian adalah soal pilihan dan selera. Menggunakan jubah silakan, namun jangan pernah merasa paling islami dan menilai tingkat keimanan seseorang hanya dari apa yang ia kenakan.

Tetapi entah kenapa dengan sebatas bermodal jubah dan “rayuan” ritual agama, kejahatan terjadi dari kalangan yang “ditokohkan”. Mungkin kalau masalah ini bisa Anda baca artikel lain yang mengadili tindakan “penyelewengan” yang tak patut itu. Karena tulisan ini hanya menyampaikan isi pikiran penulis bahwa bahasa Arab itu identik dengan Islam, namun Islam tidak memandang kearaban seseorang.
