Kerja itu profan. Sangat profan. Tidak ada kesucian dalam mengoreksi cetakan yang salah. Tidak ada kemuliaan dalam menagih utang ke agen majalah. Tapi kerja itu kiranya tidak pernah kotor. Mengapa? Karena ia dikerjakan dengan integritas, dengan tulus. Karena, Horison dari masa ke masa meyakini bahwa apa yang mereka jaga adalah bahasa —dan bahasa adalah amanah. Demikian juga tak ada kesucian pada kerja menyimpan sobekan wesel. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa suatu saat, secarik kertas kecil itu akan berbicara lebih keras daripada seribu kata propaganda. Dan, mungkin karena sangat profan, meskipun tidak kotor, semua itu tenggelam.
Dan pameran ini, dengan jujur, memang juga menampilkan yang tenggelam. Edisi yang gagal. Gagasan yang kandas. Nama-nama yang tidak jadi terkenal. Inilah kejujuran sejarah: bahwa tidak semua yang diusahakan berhasil terbit. Tapi yang tenggelam pun tidak kotor. Ia tenggelam karena ombak zaman, bukan karena niat busuk. Dan justru dengan mengakui yang tenggelam, pameran ini membedakan dirinya dari pameran-pameran lain yang hanya memuja kejayaan. Ini adalah pameran yang dewasa. Yang tidak takut pada bayang-bayangnya sendiri.

Akhirnya, kita sampai pada sejarah sebagai fondasi, yakni sejarah sebagai kerja konkret dalam menjaga bahasa —tugas utama Horison dan Jassin. Bukan sejarah sebagai nama besar, bukan sebagai tanggal-tanggal heroik, bukan sebagai narasi kemenangan yang dipoles agar tampak gemilang. Sejarah yang saya maksud di sini adalah sejarah yang berkeringat: ia terdiri dari hari-hari biasa ketika para redaktur duduk membaca naskah yang masuk, memilah mana yang layak terbit dan mana yang perlu ditolak dengan surat penolakan yang santun; ketika mereka berdebat tentang sebuah koma, tentang sebuah diksi yang terlalu asing atau justru terlalu biasa; ketika mereka harus memotong sebuah esai karena kolom terbatas, lalu menyampaikan permohonan maaf kepada penulisnya.
Kalau Horison adalah kerja kurasi, seleksi, dan disiplin bahasa, maka Jassin adalah kerja dokumentasi, kritik, dan kesadaran arsip. Dua wajah dari satu tubuh yang sama: tubuh yang bernama penjagaan bahasa Indonesia.
Horison bekerja di permukaan: ia memilih apa yang pantas dibaca oleh publik. Ia adalah pintu gerbang. Setiap bulan (atau setiap terbitan), para redaktur menghadapi tumpukan naskah —ada yang indah, ada yang ambisius tapi gagal, ada yang sekadar curhat tanpa bentuk. Mereka harus memutuskan. Dan keputusan itu tidak pernah mudah. Sebab, di belakang setiap naskah yang ditolak, ada seseorang yang mungkin menangis, yang mungkin berhenti menulis, yang mungkin mengirim surat kemarahan. Tapi Horison harus tetap tegas. Bukan karena sombong, tetapi karena disiplin bahasa adalah syarat mutlak agar bahasa tidak kotor. Jika semua naskah dimuat tanpa seleksi, maka kualitas akan runtuh, dan pembaca akan kehilangan pegangan tentang apa itu bahasa yang baik. Kurasi bukanlah tindakan kekuasaan; ia adalah tindakan tanggung jawab.
Sementara, Jassin bekerja di kedalaman: ia tidak hanya membaca dan menilai, tetapi juga menyimpan. Ia sadar bahwa apa yang terbit hari ini akan menjadi sejarah besok. Maka ia mengarsipkan tidak hanya naskah yang sudah jadi, tetapi juga proses di baliknya — koreksi tangan, catatan pinggir, surat penolakan yang ditulis dengan susah payah, bahkan amplop bekas yang masih menempel perangko. Ia tidak memisahkan antara yang “penting” dan yang “remeh”. Karena baginya, remeh hari ini bisa menjadi penting 50 tahun kemudian. Kesadaran arsip yang dimiliki Jassin adalah sebuah bentuk kecemasan yang produktif: cemas bahwa suatu saat bangsa ini lupa, maka ia siapkan jala ingatan sekuat tenaga.
Dan kerja kurasi dari Horison serta kerja arsip dari Jassin, dua-duanya adalah kerja yang profan. Tidak ada kesucian dalam memilah naskah sambil minum kopi pahit di ruang redaksi yang sempit. Tidak ada kemuliaan dalam menempel kliping koran dengan lem di meja makan yang penuh tumpukan. Tapi kerja itu, sekali lagi, tidak pernah kotor. Mengapa? Karena keduanya dikerjakan dengan integritas: Horison menolak memuat karya karena bujukan atau sekadar nama besar pengarang; Jassin tidak pernah memanipulasi arsip untuk membangun citranya sendiri. Mereka bekerja dengan tulus, dengan kesadaran bahwa yang mereka jaga adalah bahasa, dan —sekali lagi— bahasa adalah amanah.
Dalam konteks itu, kurasi dan dokumentasi adalah kesadaran kebudayaan: kesadaran bahwa sebuah bangsa tidak akan pernah dewasa jika ia tidak pernah belajar dari apa yang telah ia tulis, baca, dan perdebatkan. Kesadaran bahwa masa depan tidak mungkin kokoh tanpa fondasi masa lalu yang jujur —bukan masa lalu yang dipalsukan, bukan masa lalu yang dipotret hanya dari sudut terbaiknya, melainkan masa lalu yang utuh dengan segala keringat, air mata, dan juga kebodohannya. Kesadaran bahwa menjaga bahasa berarti menjaga integritas kolektif, karena bahasa adalah rumah kita bersama. Jika rumah itu kotor, maka kita semua yang tinggal di dalamnya akan merasa malu, meskipun kita tidak ikut mengotorinya.
Kurasi tanpa integritas hanyalah pameran kekuasaan: ia memajang yang menguntungkan dan menyembunyikan yang tidak. Dokumentasi tanpa kejujuran hanyalah pembangunan monumen diri: ia mengabadikan nama dan menghapus jejak pihak lain. Tapi Horison dan Jassin melakukan sebaliknya. Mereka memajang yang terbit, tetapi juga mengakui yang tenggelam. Mereka mendokumentasikan kejayaan, tetapi juga menyimpan bukti-bukti kegagalan, keraguan, dan perselisihan. Di sinilah letak keberanian moral yang sesungguhnya: berani tidak menjadi pahlawan dalam cerita yang kita tulis sendiri. Berani menampilkan wajah apa adanya, karena kita percaya bahwa kebenaran lebih mulia daripada pencitraan.
Dari fondasi sejarah yang konkret inilah —dari kerja kurasi dan dokumentasi— pameran “Yang Terbit, Yang Tenggelam” lahir. Ia mengingatkan bahwa kerja kurasi memang “mengorbitkan”, namun juga mengandung konsekuensi “menenggelamkan”. Dari yang terbit, lahirlah kanon; tetapi pada saat yang sama, ada gagasan yang terlupakan, penulis yang hilang, kemungkinan yang tak dilanjutkan. Dengan demikian, pameran ini mengirimkan pesan: sejarah sastra bukan hanya tentang apa yang tercatat atau bertahan, melainkan juga tentang apa yang hilang. Namun justru karena kejujuran itulah —karena ia tidak berpura-pura bahwa semua bisa terbit— pameran ini menjadi monumen bagi kerja profan yang kiranya tidak pernah kotor. Dan karena ia monumen, ia juga adalah pengadilan: ia mengundang kita untuk bertanya apakah saat ini masih ada yang bersedia melakukan kerja serupa dengan integritas yang sama?
Lapisan Estetika: Menjaga Martabat Bahasa
Lapisan kedua adalah estetika. Horison sejak awal memperjuangkan bahasa yang indah, yang padat, yang berirama —yang kita sebut sastra. Bukan karena estetika adalah hiasan, tetapi karena estetika adalah roh bahasa, dan terutama benteng melawan kekotoran. Bahasa yang kotor —yang kasar tanpa alasan, yang manipulatif, yang dangkal— tidak akan pernah bisa estetis, tidak akan pernah mencapai tingkat tertinggi estetika bahasa. Sebaliknya, bahasa yang estetis menuntut kejujuran: ia tidak bisa berbohong dengan elegan, karena kebohongan akan merusak ritmenya sendiri.
Horison dan H.B. Jassin adalah penjaga estetika yang paling keras. Mereka menolak bahasa yang asal jadi, yang asal provokatif, yang asal populis. Bukan karena mereka elitis, tetapi karena mereka tahu: ketika bahasa kehilangan bentuk estetiknya, ia mudah dijadikan alat. Dan ketika ia menjadi alat, ia mudah kotor. Di atas landasan itulah, kebebasan berkarya dan berpikir —khususnya secara historis di awal Orde Baru— tidak pernah dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Justru sebaliknya: kebebasan itu harus dipertanggungjawabkan melalui bentuk. Sebuah puisi boleh berteriak melawan kekuasaan, tetapi teriakannya harus tertata; sebuah cerpen boleh menggugat kemunafikan, tetapi gugatannya harus berirama. Tanpa bentuk yang matang, yang lahir bukanlah kebebasan, melainkan kekacauan yang mudah dijinakkan atau justru dijadikan kambing hitam oleh kekuasaan.
Mari kita ingat konteks kelahiran Horison pada Juli 1966. Indonesia baru saja keluar dari pusaran kekerasan. Bahasa dipakai sebagai alat propaganda oleh berbagai kubu. Kebenaran mudah dipalsukan. Dalam situasi seperti itu, Horison hadir dengan sebuah tawaran yang radikal: kembalikan bahasa Indonesia kepada martabatnya. Caranya bukan dengan membungkam kritik, melainkan dengan memastikan bahwa kritik itu disampaikan dalam bentuk yang layak. Maka, sastra menjadi semacam laboratorium etika: di dalamnya, setiap kata harus dipertimbangkan, setiap irama harus dirasakan, setiap diksi harus diuji. Tidak ada ruang bagi bahasa yang asal-asalan, karena asal-asalan adalah pintu masuk bahasa yang kotor.
Jassin, sebagai kritikus sastra paling berpengaruh di masanya, adalah benteng terdepan estetika ini. Ia tidak segan-segan menulis ulasan puluhan halaman tentang sebuah puisi, mengupas pilihan diksi, ritme, enjambemen, hingga penggunaan tanda baca. Ia juga tidak segan-segan mengkritik keras karya yang menurutnya gagal memenuhi standar estetis —bahkan jika pengarangnya adalah sahabat dekatnya sendiri. Bukan karena ia suka merendahkan, tetapi karena ia percaya bahwa pujian yang tidak jujur lebih berbahaya daripada kritik yang tajam. Pujian palsu membuat penulis terlena, lalu berhenti berkembang, lalu mulai menulis dengan malas, lalu bahasanya menjadi kotor. Itulah yang ia hindari.
Dalam konteks itu, Horison —termasuk Jassin di dalamnya— lahir dari kegelisahan intelektual dan keberanian moral. Kegelisahan intelektual, karena mereka sadar bahwa bahasa Indonesia masih relatif muda, masih dalam proses pembentukan, masih sangat mungkin terjerumus ke dalam kekotoran jika tidak dijaga. Keberanian moral, karena mereka bersedia mengambil posisi yang tidak selalu populer. Menolak naskah seorang teman adalah tindakan yang tidak nyaman. Mengkritik karya seorang tokoh sastra yang sudah dihormati adalah risiko sosial. Tapi mereka melakukannya. Bukan karena mereka haus kekuasaan atau ingin dianggap paling benar, tetapi karena moral estetis mereka berkata: lebih baik tidak populer daripada tidak jujur.
Dari kegelisahan dan keberanian itulah estetika Horison terbentuk: sebuah estetika yang tidak pernah puas dengan yang sudah baik, yang sudah dicapai, estetika yang selalu mencari yang lebih baik, yang eksperimental, yang selalu bertanya “apakah ini sudah cukup indah, sudah cukup jujur, sudah cukup hidup?” Dan pertanyaan itu pun tak pernah berhenti.
Majalah sastra Horison dan sosok H.B. Jassin tidak sekadar berfungsi sebagai media cetak dan kritikus, melainkan menjelma sebagai arena pertemuan berbagai spektrum karya sastra dan pemikiran dari berbagai generasi. Di balik lembarannya, terjadi pertarungan gagasan yang sengit, di mana estetika, pemikiran, dan gaya bahasa diuji serta diperdebatkan secara terbuka. Sebagai “Paus Sastra Indonesia”, Jassin menjadi wasit sekaligus kurator yang menentukan standar mutu. Dalam batas berbeda, keduanya adalah panggung krusial bagi lahirnya kanon sastra sekaligus medan laga bagi pergolakan intelektual yang membentuk arah sastra Indonesia modern.
Dan di sinilah letak pentingnya estetika bagi spirit “profan tak boleh kotor”. Jika estetika adalah benteng, maka ia menjaga agar bahasa Indonesia —yang sehari-hari dipakai untuk berdagang, bergosip, berpolitik, dan mengeluh— tidak jatuh ke dalam jurang kekasaran dan kepalsuan. Sebuah iklan boleh profan tujuannya (misalnya menjual sabun), tetapi ia tidak boleh kotor (berbohong tentang khasiatnya). Sebuah pidato politik boleh profan kepentingannya (misalnya meraih suara), tetapi ia tidak boleh kotor (misalnya menebar kebencian atau kebohongan). Dan sastra, dengan estetika yang dijaganya, adalah sekolah bagi profanitas yang bersih. Ia mengajarkan bahwa kata-kata adalah sesuatu yang hidup, yang bisa menyakiti atau menyembuhkan, yang bisa membangun atau meruntuhkan. Maka, setiap kali kita menulis atau berbicara, kita sedang mempertanggungjawabkan sesuatu di hadapan bahasa itu sendiri.
Sastra menjalankan tugas tertingginya di ranah profanitas ini: menjaga roh dan martabat bahasa. Ia tidak perlu menjadi kitab suci. Ia tidak perlu didakwahkan dari mimbar. Ia cukup hadir sebagai teguran halus setiap kali kata-kata mulai kehilangan arah. Sastra adalah disiplin yang membuat bahasa tetap jernih. Bukan jernih dalam arti sederhana dan mudah, tetapi jernih dalam artian tidak keruh oleh kebohongan, tidak pekat oleh kepalsuan, tidak bau oleh kemunafikan, tidak kotor oleh buzzer, tidak jorok oleh hoaks, tidak busuk oleh ujaran kebencian. Ia seperti air yang mengalir dari hulu yang masih bersih: ia boleh melewati lumpur, tetapi ia tidak akan menjadi lumpur.
Sastra adalah yang menahan kata-kata dari kejatuhan menjadi banal. Dalam dunia yang semakin riuh dengan slogan, klikbait, hoaks, ujaran kebencian, dan status media sosial yang berganti setiap detik, kata-kata mudah sekali kehilangan bobotnya. Cinta diucapkan terlalu mudah sehingga ia kehilangan getarannya. Benci diumbar terlalu cepat sehingga ia kehilangan maknanya. Kebenaran diklaim oleh semua pihak sehingga ia kehilangan rujukannya. Di tengah semua itu, sastra hadir sebagai rem yang tidak terlihat: ia memaksa kita berhenti sejenak, membaca ulang, merasakan lagi, menimbang lagi, bertanya apakah sebuah kata benar-benar pantas diucapkan. Sebuah puisi yang baik tidak bisa dibaca sambil lalu. Ia menuntut waktu, perhatian, dan kerentanan. Dan dalam tuntutan itulah, bahasa diselamatkan dari kekeringan makna, dari ketergesaan yang terburu-buru.
Dalam arti itu, sastra menjaga bahasa agar tidak kehilangan bobot batinnya. Bobot batin adalah sesuatu yang tidak bisa diukur dengan statistik atau popularitas. Ia adalah gema yang tersisa setelah sebuah kalimat selesai dibaca. Ia adalah rasa yang terus mengendap meski buku sudah ditutup. Tanpa bobot batin, bahasa hanyalah bunyi yang cepat lenyap, seperti air di atas daun talas. Dengan bobot batin, bahasa menjadi sesuatu yang mengendap, yang terus bekerja dalam jiwa pembacanya, yang mengubah cara pandang tanpa perlu bersuara keras. Dalam pengertian ini, sastra adalah latihan rohani yang profan: ia tidak menjanjikan surga, tetapi ia mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang lebih peka, lebih jujur, lebih berani menghadapi kenyataan.
Dan Horison, sejak 1966 hingga hari ini, adalah salah satu rumah bagi latihan rohani yang profan itu. Ia tidak pernah mengaku sebagai lembaga suci. Ia tidak pernah memasang wajah malaikat di sampulnya. Tapi di dalamnya, selama 60 tahun, berlangsung proses yang terus-menerus: menjaga agar kata-kata tetap memiliki bobot, menahan arus banalitas yang tak henti, dan memastikan bahwa bahasa Indonesia —yang sehari-hari dipakai untuk hal-hal yang sangat duniawi— tidak kehilangan martabatnya. Inilah estetika sebagai etika. Inilah sastra sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Horison dan Jassin tidak pernah mengklaim telah berhasil sepenuhnya. Mereka hanya berusaha. Dan pameran ini adalah bukti bahwa usaha itu tidak sia-sia. Karena 60 tahun kemudian, kita masih berbicara tentang estetika. Kita masih peduli pada sastra. Kita masih percaya bahwa bahasa yang indah adalah bahasa yang jujur. Dan kita masih ingin mewariskannya kepada generasi yang akan datang, agar mereka tahu bahwa di tengah segala kebisingan, hoaks, buzzer, dan ujaran kebencian, masih ada ruang untuk kata-kata yang dipahat dengan penuh cinta.
Lapisan Sakralitas: Jassin dan Bacaan Mulia
Namun bagi Jassin, estetika sastra yang dijaganya —termasuk lewat Horison— ternyata belum cukup. Ada sebuah kerinduan yang tidak terpuaskan oleh puisi Chairil Anwar, tidak juga oleh esai-esai kritiknya sendiri. Ia bertanya: jika bahasa Indonesia mampu melahirkan puisi sekelas “Aku” atau “Doa”, mengapa ia belum pernah dipakai untuk berbicara langsung dengan Yang Maha Kuasa? Pertanyaan inilah yang membawanya ke wilayah yang belum pernah dijamah sastrawan sebelumnya dalam arti yang sesungguhnya: wilayah wahyu.
Inilah lapisan ketiga, lapisan yang paling dalam, yaitu sakralitas bahasa. Di sinilah kontribusi Jassin paling berkilau. Jassin tidak hanya menjaga estetika bahasa Indonesia di ranah profan, yakni bahasa dalam sastra Indonesia modern. Ia terbang lebih jauh. Ia menguji bahasa Indonesia pada tugas tertingginya: menjadi medium wahyu, menjadi alat artikulasi kitab suci. Bacaan Mulia adalah proyek Jassin yang berangkat dari keyakinannya bahwa bahasa Indonesia, betapapun telah modern pencapaiannya dalam sastra Indonesia, masih harus didorong ke posisi yang lebih tinggi lagi. Di sini Jassin menaikkan bahasa Indonesia dari tataran profan ke ranah sakral.
Di tangan Jassin, Bacaan Mulia adalah proyek bahasa, proyek intelektual, dan proyek spiritual sekaligus. Dalam kesempatan yang terbatas ini, cukuplah kita melihatnya sebagai proyek bahasa secara ringkas. (Mudah-mudahan ada kesempatan lain kita mengapresiasi mahakarya Jassin ini sebagai proyek intelektual dan proyek spiritual). Dalam konteks ini, Bacaan Mulia adalah puncak dari evolusi negosiasi bahasa Indonesia antara profanitas dan sakralitas.
Saudara-saudara yang saya hormati,
Mari kita lihat posisi Jassin dalam lanskap historis. Kita tahu, bahasa Melayu-Indonesia lahir sebagai lingua franca, bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, bahasa komunikasi antaretnis, bahasa kesultanan, dan seterusnya. Di sini, bahasa Melayu adalah bahasa profan —bahasa yang dipakai untuk tawar-menawar ikan, untuk surat-menyurat dagang, untuk mengatur administrasi kerajaan, untuk bercerita tentang hal-hal keseharian yang tidak pernah mengklaim dirinya suci. Ia adalah bahasa yang cair, lincah, dan rendah hati. Tidak ada pretensi. Tidak ada ambisi untuk menjadi kitab. Ia hanya ingin dipahami.
