Di sinilah takzim menemukan pasangannya: amanah. Menghormati kiai adalah adab santri. Menjaga santri adalah amanah kiai. Jangan sampai bahasa khidmah membuat kita lupa bahwa manusia yang sedang berkhidmah juga merupakan manusia yang harus dihormati.
Karena itu, pekerjaan yang memang terkait dengan pendidikan, dakwah, pelayanan pesantren, atau kebutuhan langsung yang memungkinkan kiai menjalankan amanah keilmuannya tentu bisa dibantu dengan keikhlasan santri berkhidmah. Namun berbeda ketika konteks untuk pekerjaan domestik, terutama yang bersifat sekunder atau bahkan tersier yang sebenarnya dapat dilakukan oleh tenaga profesional.

Bukan karena pekerjaan itu rendah. Justru karena setiap pekerjaan memiliki profesi, kompetensi, dan bentuk penghargaan yang semestinya.
Mencari sopir profesional, tenaga rumah tangga profesional, atau tenaga administrasi profesional bukan berarti pesantren sedang meninggalkan tradisi.
Boleh jadi justru sedang menjaga tradisi agar tidak disalahgunakan. Takzim tidak berarti berhenti berpikir. Pesantren membutuhkan santri yang taat, tetapi bukan santri yang kehilangan akal sehat.
Kita perlu membedakan takzim dengan ketundukan tanpa batas. Menghormati guru tidak berarti membenarkan semua hal yang dilakukan manusia. Menghormati kiai tidak berarti menghapus kemampuan untuk bertanya. Husnuzan tidak berarti menutup mata terhadap persoalan yang harus diperbaiki.
Pesantren justru memiliki tradisi intelektual yang sangat kaya untuk membangun sikap semacam ini. Para ulama mengajarkan adab al-‘alim wa al-muta’allim, tetapi pada saat yang sama mereka juga mengajarkan tradisi kritik, dialog, bahtsul masail, mudzakarah, dan perbedaan pendapat.
Maka santri ideal bukanlah santri yang selalu mengatakan “iya”. Santri ideal adalah orang yang mampu mengatakan “iya” dengan adab dan “tidak” dengan adab.
Berani bertanya tanpa kurang ajar. Berani berbeda tanpa kehilangan hormat. Berani mengingatkan tanpa merasa lebih alim. Dan berani menerima nasihat tanpa merasa direndahkan. Inilah kedewasaan pesantren.
Sebab kewibawaan seorang kiai sesungguhnya tidak akan runtuh hanya karena ada santri yang bertanya. Kewibawaan justru semakin kokoh ketika sebuah pesantren mampu menciptakan ruang di mana kebenaran dapat dibicarakan dengan adab.
Menyesuaikan Bentuk
Zaman berubah. Pesantren juga hidup di dalam perubahan itu.
Model relasi sosial yang sangat efektif beberapa puluh tahun lalu belum tentu selalu efektif hari ini. Bukan berarti masa lalu salah. Hanya saja, konteks sosialnya berbeda.
Dulu mungkin cukup dengan satu orang yang dipercaya mengurus banyak hal. Sekarang pengelolaan keuangan membutuhkan pencatatan. Administrasi membutuhkan sistem. Kendaraan membutuhkan pengemudi yang kompeten. Pekerjaan domestik membutuhkan tenaga profesional. Pengelolaan lembaga membutuhkan pembagian kewenangan dan kontrol.
Kepercayaan tetap penting. Tetapi kepercayaan yang baik justru membutuhkan sistem yang baik. Kita tidak membuat sistem karena semua orang jahat. Kita membuat sistem karena semua manusia memiliki keterbatasan. Bahkan orang yang paling dipercaya tetap manusia.
