Batas Relasi Kuasa di Pesantren

Karena itu, pembagian tugas, pencatatan, supervisi, transparansi, dan evaluasi tidak perlu dipandang sebagai tanda kecurigaan. Ia adalah bentuk lain dari amanah.

Bukankah menjaga nama baik kiai dan Pesantren juga bagian dari khidmah

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bukankah mencegah seorang yang dipercaya terjatuh dalam kesalahan juga bagian dari khidmah?

Bukankah melindungi pesantren dari persoalan yang sebenarnya dapat dicegah juga bagian dari khidmah?

Maka barangkali sudah saatnya kita melihat khidmah bukan hanya sebagai kesediaan melakukan sesuatu, tetapi juga sebagai kesediaan menjaga sesuatu agar tetap berada dalam kebaikan.

Masa Lalu, Masa Depan

Pesantren tidak perlu kehilangan masa lalunya untuk menyambut masa depan. Karena sejarah pada hakikatnya adalah tentang masa depan.

Kita tidak perlu membuang khidmah. Kita hanya perlu memastikan bahwa khidmah tetap menjadi khidmah. Tidak berubah menjadi eksploitasi. Tidak menjadi alat untuk menghapus batas. Tidak menjadi alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya sudah keluar dari kewajaran.

Saya teringat pesan Mbah Maimun Zubair tentang hakikat bangunan pesantren sebagai aset, sementara ta’lim wa ta’allum adalah ruhnya. Pesantren pada akhirnya bukan tentang seberapa megah bangunannya, seberapa banyak kendaraannya, atau seberapa besar asetnya.

Pesantren adalah tentang manusia yang belajar menjadi manusia. Kiai belajar menjaga amanah ilmu. Santri belajar menjaga adab.

Yang berkuasa belajar menjaga yang lemah. Yang dipercaya belajar menjaga kepercayaan. Yang berkhidmah belajar menjaga keikhlasan.

Dan semuanya belajar satu hal yang sama: bahwa barakah tidak lahir dari relasi yang membuat seseorang merasa paling tinggi, tetapi dari relasi dengan niat lillahi ta’ala yang membuat masing-masing pihak semakin dekat mendapatkan rida Allah swt.

Mungkin itulah khidmah yang perlu kita rawat: khidmah yang tetap tunduk kepada adab, keikhlasan yang tetap ditemani kewajaran, dan kewibawaan yang justru semakin mulia karena tidak pernah menggunakan kekuasaan secara berlebihan.

Sebab pesantren yang baik bukan pesantren tanpa persoalan. Pesantren yang baik adalah pesantren yang cukup rendah hati untuk belajar dari setiap persoalan, cukup berani untuk berbenah, dan cukup teguh untuk menjaga ruhnya ketika zaman berubah.

Tinggalkan Balasan