Batas Relasi Kuasa di Pesantren

Ada satu hal yang kadang luput kita sadari: sesuatu yang bermula dari keikhlasan pun dapat berubah menjadi persoalan ketika kehilangan batas. Bahkan dalam ruang yang paling kita hormati sekalipun. Karena itu, membicarakan relasi kuasa di pesantren bukan berarti sedang mencurigai kiai, meragukan tradisi khidmah, atau membawa ukuran-ukuran luar untuk menghakimi pesantren. Justru sebaliknya, ini adalah ikhtiar dari dalam untuk merawat pesantren agar tetap menjadi tempat ilmu, adab, dan keberkahan.

Pesantren memiliki relasi yang khas. Kiai, gus, bu nyai, ning, guru, dan santri tidak sepenuhnya dapat dibaca dengan logika hubungan atasan dan bawahan. Ada takzim, ada khidmah, ada berkah, ada sanad keilmuan, dan ada ikatan batin yang tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa organisasi modern.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tetapi justru karena relasi itu begitu kuat, ia membutuhkan kesadaran yang kuat pula.

Jalan Keberkahan

Saya teringat satu refleksi Gus Baha tentang relasi manusia: berteman dengan orang kaya bisa memunculkan hasud, rasa iri ingin mendapatkan kenikmatan yang sama. Sementara, berteman dengan orang miskin bisa membuka peluang isti’bad, yaitu memperlakukan orang lain seakan-akan lebih rendah (baca: ‘diperbudak’) dan dapat diperlakukan sesuka hati. Di situlah manusia diuji.

Relasi sosial hampir selalu membawa potensi kuasa. Yang memiliki harta mempunyai daya tertentu. Yang memiliki ilmu memiliki daya tertentu. Yang memiliki jabatan memiliki daya tertentu. Bahkan orang yang dianggap paling saleh sekalipun tetap memiliki kekuasaan ketika orang lain menaruh hormat yang sangat tinggi kepadanya.

Pesantren tidak steril dari hukum manusia tersebut.

Namun pesantren memiliki perangkat moral yang jauh lebih kaya untuk mengelolanya: lillah, fillah, takzim, tawadhu, khidmah, dan amanah.

Santri yang membantu kiai bukan sekadar sedang mengerjakan pekerjaan. Ia sedang belajar tentang pengabdian. Ketika santri membantu menyiapkan kebutuhan kiai yang akan mengajar, menemani perjalanan dakwah, mengurus keperluan pesantren, atau membantu pekerjaan yang memungkinkan kiai lebih banyak menggunakan waktunya untuk ilmu dan umat, di sana terdapat makna khidmah yang luhur.

Kiai menghabiskan waktu untuk mengajar. Santri membantu agar waktu itu tidak habis untuk urusan yang sebenarnya dapat dibantu. Kiai melayani umat. Santri membantu agar pelayanan itu berjalan lebih baik. Dalam relasi semacam ini, keduanya saling menguatkan. Simbiosis mutualisme.

Kiai memberikan ilmu; santri memberikan tenaga. Kiai memberikan waktu untuk umat; santri membantu menjaga waktu itu. Keduanya bertemu dalam satu orientasi: lillahi ta’ala. Itulah khidmah yang menumbuhkan keberkahan.

Tidak Tanpa Batas

Tetapi ada satu kesalahpahaman yang perlu kita luruskan dengan tenang: ikhlas bukan berarti kehilangan batas. Santri boleh ikhlas. Bahkan sebaiknya memang harus ikhlas. Tetapi keikhlasan santri tidak boleh menjadi alasan bagi siapa pun untuk mengabaikan kewajaran.

Sebab ikhlas adalah kualitas batin seseorang. Sedangkan batas adalah etika dalam hubungan sosial. Keduanya tidak bertentangan.

Seorang santri dapat ikhlas membantu kiai, tetapi tetap memiliki hak untuk belajar, beristirahat, menjaga kesehatan, dan mengembangkan dirinya. Seorang kiai dapat menerima khidmah santri dengan penuh penghargaan, tetapi tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa khidmah tersebut tidak bergeser menjadi eksploitasi.

Di sinilah takzim menemukan pasangannya: amanah. Menghormati kiai adalah adab santri. Menjaga santri adalah amanah kiai. Jangan sampai bahasa khidmah membuat kita lupa bahwa manusia yang sedang berkhidmah juga merupakan manusia yang harus dihormati.

Karena itu, pekerjaan yang memang terkait dengan pendidikan, dakwah, pelayanan pesantren, atau kebutuhan langsung yang memungkinkan kiai menjalankan amanah keilmuannya tentu bisa dibantu dengan keikhlasan santri berkhidmah. Namun berbeda ketika konteks untuk pekerjaan domestik, terutama yang bersifat sekunder atau bahkan tersier yang sebenarnya dapat dilakukan oleh tenaga profesional.

Bukan karena pekerjaan itu rendah. Justru karena setiap pekerjaan memiliki profesi, kompetensi, dan bentuk penghargaan yang semestinya.

Mencari sopir profesional, tenaga rumah tangga profesional, atau tenaga administrasi profesional bukan berarti pesantren sedang meninggalkan tradisi.

Boleh jadi justru sedang menjaga tradisi agar tidak disalahgunakan. Takzim tidak berarti berhenti berpikir. Pesantren membutuhkan santri yang taat, tetapi bukan santri yang kehilangan akal sehat.

Kita perlu membedakan takzim dengan ketundukan tanpa batas. Menghormati guru tidak berarti membenarkan semua hal yang dilakukan manusia. Menghormati kiai tidak berarti menghapus kemampuan untuk bertanya. Husnuzan tidak berarti menutup mata terhadap persoalan yang harus diperbaiki.

Pesantren justru memiliki tradisi intelektual yang sangat kaya untuk membangun sikap semacam ini. Para ulama mengajarkan adab al-‘alim wa al-muta’allim, tetapi pada saat yang sama mereka juga mengajarkan tradisi kritik, dialog, bahtsul masail, mudzakarah, dan perbedaan pendapat.

Maka santri ideal bukanlah santri yang selalu mengatakan “iya”. Santri ideal adalah orang yang mampu mengatakan “iya” dengan adab dan “tidak” dengan adab.

Berani bertanya tanpa kurang ajar. Berani berbeda tanpa kehilangan hormat. Berani mengingatkan tanpa merasa lebih alim. Dan berani menerima nasihat tanpa merasa direndahkan. Inilah kedewasaan pesantren.

Sebab kewibawaan seorang kiai sesungguhnya tidak akan runtuh hanya karena ada santri yang bertanya. Kewibawaan justru semakin kokoh ketika sebuah pesantren mampu menciptakan ruang di mana kebenaran dapat dibicarakan dengan adab.

Menyesuaikan Bentuk

Zaman berubah. Pesantren juga hidup di dalam perubahan itu.

Model relasi sosial yang sangat efektif beberapa puluh tahun lalu belum tentu selalu efektif hari ini. Bukan berarti masa lalu salah. Hanya saja, konteks sosialnya berbeda.

Dulu mungkin cukup dengan satu orang yang dipercaya mengurus banyak hal. Sekarang pengelolaan keuangan membutuhkan pencatatan. Administrasi membutuhkan sistem. Kendaraan membutuhkan pengemudi yang kompeten. Pekerjaan domestik membutuhkan tenaga profesional. Pengelolaan lembaga membutuhkan pembagian kewenangan dan kontrol.

Kepercayaan tetap penting. Tetapi kepercayaan yang baik justru membutuhkan sistem yang baik. Kita tidak membuat sistem karena semua orang jahat. Kita membuat sistem karena semua manusia memiliki keterbatasan. Bahkan orang yang paling dipercaya tetap manusia.

Karena itu, pembagian tugas, pencatatan, supervisi, transparansi, dan evaluasi tidak perlu dipandang sebagai tanda kecurigaan. Ia adalah bentuk lain dari amanah.

Bukankah menjaga nama baik kiai dan Pesantren juga bagian dari khidmah

Bukankah mencegah seorang yang dipercaya terjatuh dalam kesalahan juga bagian dari khidmah?

Bukankah melindungi pesantren dari persoalan yang sebenarnya dapat dicegah juga bagian dari khidmah?

Maka barangkali sudah saatnya kita melihat khidmah bukan hanya sebagai kesediaan melakukan sesuatu, tetapi juga sebagai kesediaan menjaga sesuatu agar tetap berada dalam kebaikan.

Masa Lalu, Masa Depan

Pesantren tidak perlu kehilangan masa lalunya untuk menyambut masa depan. Karena sejarah pada hakikatnya adalah tentang masa depan.

Kita tidak perlu membuang khidmah. Kita hanya perlu memastikan bahwa khidmah tetap menjadi khidmah. Tidak berubah menjadi eksploitasi. Tidak menjadi alat untuk menghapus batas. Tidak menjadi alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya sudah keluar dari kewajaran.

Saya teringat pesan Mbah Maimun Zubair tentang hakikat bangunan pesantren sebagai aset, sementara ta’lim wa ta’allum adalah ruhnya. Pesantren pada akhirnya bukan tentang seberapa megah bangunannya, seberapa banyak kendaraannya, atau seberapa besar asetnya.

Pesantren adalah tentang manusia yang belajar menjadi manusia. Kiai belajar menjaga amanah ilmu. Santri belajar menjaga adab.

Yang berkuasa belajar menjaga yang lemah. Yang dipercaya belajar menjaga kepercayaan. Yang berkhidmah belajar menjaga keikhlasan.

Dan semuanya belajar satu hal yang sama: bahwa barakah tidak lahir dari relasi yang membuat seseorang merasa paling tinggi, tetapi dari relasi dengan niat lillahi ta’ala yang membuat masing-masing pihak semakin dekat mendapatkan rida Allah swt.

Mungkin itulah khidmah yang perlu kita rawat: khidmah yang tetap tunduk kepada adab, keikhlasan yang tetap ditemani kewajaran, dan kewibawaan yang justru semakin mulia karena tidak pernah menggunakan kekuasaan secara berlebihan.

Sebab pesantren yang baik bukan pesantren tanpa persoalan. Pesantren yang baik adalah pesantren yang cukup rendah hati untuk belajar dari setiap persoalan, cukup berani untuk berbenah, dan cukup teguh untuk menjaga ruhnya ketika zaman berubah.

Tinggalkan Balasan