Sementara pelaku kejahatan tersenyum lebar,
Dalam bayang-bayang kekuasaan yang suram,
Penegak hukum bagaikan bayangan tanpa bentuk,
Tak mampu menegakkan hukum, tak punya tekad yang kuat.
Di meja-meja pengadilan, keputusan terulur,
Namun kepastian hukum hanya ilusi semu,
Ketika nyali hilang dalam kesepian dan kebisingan,
Keadilan menjadi barang langka yang tak pernah sampai.

Mereka yang diharapkan melindungi,
Terlalu takut menghadapi kegelapan malam,
Tak berani menegakkan hukum yang penuh tanggung jawab,
Membiarkan keadilan terabaikan dan hancur berkeping.
Di jalanan yang sunyi, di mata yang kosong,
Kita mencari penegak hukum yang berani dan adil,
Yang akan berdiri tegak melawan segala bentuk kejahatan,
Dan mengembalikan kepercayaan pada setiap jiwa yang terluka.
2024.
DI BALIK TIRAI KEKUASAAN
Di puncak menara megah berkilau,
Di balik tirai emas yang menjulang,
Ada tangan-tangan yang tak tampak,
Menyulam kekuasaan dalam senyap.
Berkedip lampu kota yang lelah,
Di bawah langit langit biru malap,
Sementara kursi-kursi megah berpindah,
Penguasa oligarki, dalam bayang-bayang.
Mereka mengukir cita dengan tinta,
Di atas kertas yang penuh angka,
Mengatur nasib, memutar roda,
Dalam ballroom yang diselubungi cahaya.
Di jari-jemari mereka, dunia bergetar,
Di hati mereka, emosi pudar,
Harta dan tahta, paduan sempurna,
Menyulam kebijakan dalam aura yang megah.
Namun di lorong-lorong, di sudut kota,
Ada suara-suara yang melawan arus,
Di tengah hiruk-pikuk yang bising,
Ada doa untuk keadilan yang belum datang.
Kita menanti di tengah gemerlap,
Akan datangnya hari, dimana keadilan berpihak,
Kepada yang tertindas, kepada yang miskin,
Dalam dunia yang dicipta untuk semua, bukan hanya segelintir.
2024.
