kunjungan siswa SDI Tebuireng ke BST (Foto: Tebuireng Online)

Belajar Kesalehan Ekologis dari Bank Sampah Tebuireng

Sampah yang memenuhi standar dan memiliki nilai ekonomi akan dikirim ke pabrik daur ulang. Sementara itu, sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali menjadi residu dan ditempatkan di kontainer milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjardowo, Gedangkeret, Jombang.

Meskipun proses daur ulang sepenuhnya dilakukan oleh pihak pabrik, kehadiran BST tetap memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi lingkungan utamanya  bagi para santri atau pelajar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Peran edukatif tersebut terlihat dari tingginya antusiasme berbagai lembaga pendidikan untuk berkunjung. Tidak hanya dari unit pendidikan yang ada di lingkungan pesantren Tebuireng, BST juga sering menerima kunjungan dari sekolah-sekolah di berbagai tingkatan di luar lingkup Pesantren Tebuireng. Sejak tahun 2024-2025 tercatat sudah ada 3.671 orang yang berkunjung ke BST.

Kunjungan edukasi tersebut juga tidak dipungut biaya sepeserpun. Setiap peserta hanya diminta membawa tiga hingga lima botol plastik bekas sebagai bentuk partisipasi sederhana dalam pengelolaan sampah. Botol-botol tersebut kemudian dimasukkan ke tempat yang telah disediakan sebelum peserta mengikuti materi edukasi yang akan disampaikan oleh tim edukasi BST di Wahana Edukasi Sampahku Tanggung Jawabku (WEST).

Di WEST, para peserta memperoleh edukasi mengenai berbagai jenis sampah beserta cara mengelompokkannya. Melalui pembelajaran tersebut, mereka dikenalkan pada perbedaan antara sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dan sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Pada kesempatan tertentu, peserta juga diajak mengunjungi area pemilahan sampah agar dapat menyaksikan secara langsung proses pengelolaan sampah di Bank Sampah Tebuireng.

Data kunjungan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap persoalan sampah semakin mendapat perhatian. Hal ini menjadi penting mengingat Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah setiap tahunnya, sementara sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari sungai dan lautan. Persoalan lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan sampah, melainkan persoalan perilaku manusia.

Tinggalkan Balasan