Kolonialisme yang Masih Hidup di Rak Buku 

“Buku rekomendasi Bapak untuk anak-anak Indonesia apa, Pak?”

Pertanyaan itu diajukan Putri Aulia kepada Menteri Hak Asasi Manusia RI, Natalius Pigai, dalam sebuah wawancara yang diunggah akun @jagat_literasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Alih-alih menyebutkan judul buku atau nama penulis tertentu, Pigai memberikan jawaban yang kemudian memantik diskusi luas di ruang publik. Berikut kutipannya:

Rekomendasi saya untuk anak-anak Indonesia baca saja buku yang dikarang oleh orang Barat atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kalau tidak bisa dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia. Kenapa? Karena kalau orang Indonesia nulis itu sesuai versinya dan subjektif.”

Dalam video yang sama, Pigai juga menyampaikan kegelisahannya terhadap budaya membaca yang menurutnya mulai tergeser oleh kecerdasan buatan (AI), internet, dan media sosial. Berikut kutipannya:

Ilmu pengetahuan sudah tergeser ke AI, internet, dan media sosial. Saya pikir karena itu rakyat Indonesia harus kembali lagi menyadari buku yang menjadi cikal bakal pertama munculnya cakrawala dunia sebelum revolusi industri. Itu harus diperbaiki. Makanya perbaikan harus hadir, kehadiran kita ke perpustakaan-perpustakaan, toko buku, baca buku manual itu jauh lebih penting.”

Di pengujung wawancara, Putri Aulia kembali bertanya, “Bagaimana caranya biar anak-anak Indonesia mau lagi belajar dan baca?” Pigai menjawab singkat, “Harus ke perpustakaan, setiap saat.”

Video itu pun berakhir. Padahal percakapannya justru baru dimulai di ruang publik. Hingga Minggu, 2 Agustus 2026, unggahan tersebut telah dipenuhi sekitar 30,9 ribu komentar, menghadirkan beragam tanggapan. Sebagian mengapresiasi ajakan untuk kembali membaca buku dan menghidupkan perpustakaan. Sebagian lain mempertanyakan alasan yang mendasari rekomendasi tersebut, terutama ketika karya penulis Indonesia dianggap lebih subjektif dibandingkan karya penulis Barat.

Bagi penulis, persoalannya terletak pada alasan di balik rekomendasi tersebut. Membaca karya dari berbagai belahan dunia merupakan bagian dari tradisi intelektual yang sehat. Sejak dahulu para ulama melakukan rihlah fi thalab al-‘ilm, menempuh perjalanan panjang untuk belajar dari berbagai pusat ilmu pengetahuan tanpa mempersoalkan asal geografis gurunya.

Tinggalkan Balasan