“Apa bentuk kepedulian lingkungan yang pernah kamu lakukan?”
Pertanyaan itu menjadi pembuka kegiatan Jalan-Jalan Toleransi, sebuah program bulanan yang diselenggarakan oleh GUSDURian Jogja.

Jalan-Jalan Toleransi dirancang sebagai ruang temu lintas iman yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang agama, usia, dan profesi untuk saling belajar melalui pengalaman langsung. Alih-alih hanya mendiskusikan toleransi di dalam ruang, program ini mengajak peserta mengunjungi berbagai lembaga berbasis agama untuk melihat bagaimana nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan pemberdayaan diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Pada Minggu (26/7/2026), Jalan-Jalan Toleransi mengangkat tema “Lembaga Berbasis Agama sebagai Ruang Pemberdayaan Masyarakat” dengan mengunjungi Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak melalui inisiatif Krapyak Peduli Sampah.
Pertanyaan pembuka tersebut terdengar sederhana. Namun, sebelum menjawabnya, penulis justru diajak untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan lingkungan: sejauh mana kepedulian terhadap bumi benar-benar hadir dalam keseharian? Apakah kepedulian hanya berhenti pada kebiasaan membawa tumbler atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai? Ataukah ia juga berarti kesediaan untuk bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan setiap hari?
Sebelum memulai agenda, GUSDURian Jogja memiliki kebiasaan untuk melakukan check in. Praktik ini bukan sekadar pembuka kegiatan, melainkan sebuah cara untuk mengajak setiap orang hadir secara utuh dan sadar penuh dalam proses yang akan dijalani. Melalui check in, peserta diberi ruang untuk sejenak berhenti dari kesibukan masing-masing, mengenali diri, dan membangun kesiapan untuk terlibat dalam proses belajar bersama.
Dalam kegiatan ini, fasilitator mengajak peserta melakukan check in dengan memperkenalkan diri sekaligus menjawab pertanyaan tentang bentuk kepedulian lingkungan yang pernah dilakukan. Jawaban yang muncul pun beragam. Ada yang bercerita tentang kebiasaan memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, menanam pohon, membawa tumbler, hingga mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Suasana sore itu terasa hangat. Peserta yang hadir berasal dari latar belakang agama, usia, profesi, dan komunitas yang berbeda. Namun, sebelum berbicara mengenai keberagaman dan perbedaan, mereka terlebih dahulu dipertemukan oleh satu kesadaran yang sama: bahwa bumi adalah rumah bersama yang keberlangsungannya menjadi tanggung jawab bersama. Dari kesadaran sederhana itulah perjalanan Jalan-Jalan Toleransi dimulai.
