Setelah sesi pembuka, peserta mendengarkan pemaparan dari Andika Muhammad Nuur, Direktur Krapyak Peduli Sampah. Ia menceritakan bagaimana gerakan ini lahir pada 12 Juli 2023 sebagai respons atas persoalan sampah yang dihadapi pesantren. Di tengah darurat sampah yang masih menghantui Yogyakarta, Pondok Pesantren Ali Maksum memilih untuk tidak hanya mengeluh atau menunggu solusi datang dari luar. Mereka memulai perubahan dari lingkungan sendiri.
Di salah satu dinding pesantren tertulis petuah KH. Ali Maksum, “Nek ora gelem ngeresiki, ojo ngeregeti”—kalau tidak mau membersihkan, jangan mengotori. Bagi para santri dan pengelola Krapyak Peduli Sampah, kalimat itu tentu menjadi nasihat tentang kebersihan serta Ia menjadi fondasi moral yang mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, termasuk terhadap lingkungan.

Prinsip tersebut kemudian diterjemahkan dalam satu semboyan yang terus dipegang hingga hari ini: “Sampah Hari Ini, Selesai Hari Ini.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung cara pandang yang berbeda. Sampah tidak dipahami sebagai sesuatu yang cukup dipindahkan ke tempat lain agar hilang dari pandangan. Sampah adalah tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh orang yang menghasilkannya.
Usai pemaparan, peserta diajak mengikuti walking tour menyusuri area Krapyak Peduli Sampah. Di sinilah penulis mulai melihat bagaimana sebuah nilai diterjemahkan menjadi kebiasaan.
Pemberhentian pertama memperlihatkan proses pengolahan tutup botol plastik. Di atas sebuah meja tersedia hiasan untuk membuat gantungan kunci dari tutup botol yang ternyata peralatannya sangat sederhana: setrika, kertas roti, cetakan, cutter, dan jarum besar. Baik hati sekali teman teman Krapyak Peduli Sampah mengizinkan penulis untuk mencoba langsung.
Pertama, tutup-tutup botol yang telah dipilah diletakkan di atas kertas roti lalu ditutup, kemudian dilelehkan menggunakan panas setrika. Setelah cukup lunak, segera buka kertas roti kemudian taruh cetakan di atas tutup botol yang telah lunak agar tercetak pola. Kemudian dirapikan bagian sisinya menggunakan cutter, lalu diberi lubang kecil sebagai tempat menggantungkan ring gantungan kunci. Produk tersebut kemudian dapat dihias menggunakan aneka beads hingga tampil menarik.
Melihat proses itu, penulis menyadari bahwa yang sedang diolah bukan hanya tutup botol. Yang ikut diubah adalah cara pandang terhadap benda yang selama ini dianggap tidak bernilai. Sebuah tutup botol tidak serta-merta menjadi sampah ketika selesai digunakan. Ia baru menjadi sampah ketika manusia berhenti membayangkan kemungkinan lain atas keberadaannya.
Perjalanan berlanjut menuju area pengolahan sampah organik. Di sana peserta diperlihatkan biodigester yang mengubah limbah organik menjadi biogas untuk memenuhi kebutuhan dapur pesantren. Sisa hasil pengolahannya dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik dan media tanam. Hampir tidak ada bagian yang benar-benar berakhir sebagai limbah.
