Di depan biodigester itu, penulis menyadari bahwa alam sesungguhnya tidak mengenal konsep “membuang”. Yang dikenal alam adalah siklus. Daun yang gugur akan kembali menjadi unsur hara bagi tanah. Sisa makanan dapat menjadi energi. Manusialah yang kerap menciptakan budaya sekali pakai, lalu berharap selalu ada ruang lain yang bersedia menanggung akibatnya.
Krapyak Peduli Sampah mencoba memutus cara berpikir tersebut. Para santri dibiasakan memilah sampah ke dalam puluhan kategori, mulai dari plastik transparan, kresek, botol, kaca, logam, kardus, hingga sampah organik.

Melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah secara mandiri, program ini berhasil menurunkan volume sampah yang sebelumnya mencapai sekitar 2 ton per hari menjadi hanya sekitar 100 kilogram per hari. Penurunan tersebut bukan sekadar angka keberhasilan pengelolaan limbah, melainkan menunjukkan adanya perubahan cara pandang dan kebiasaan di lingkungan pesantren.
Perjalanan kemudian berakhir di ruang pamer hasil karya Krapyak Peduli Sampah. Berbagai produk dipajang di sana: gantungan kunci, ecobrick, kursi, meja, lukisan, hingga filamen untuk 3D printing yang berasal dari limbah botol plastik. Sampah yang semula dipandang sebagai beban perlahan berubah menjadi sumber daya, bahkan membuka peluang ekonomi bagi komunitas pesantren.
Melalui proses tersebut, sampah tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, melainkan sebagai tanggung jawab yang perlu dikelola bersama. Setiap jenis sampah memiliki kemungkinan untuk dimanfaatkan kembali, baik sebagai energi, pupuk, maupun produk bernilai guna. Dengan demikian, Krapyak Peduli Sampah dapat menyelesaikan persoalan limbah pesantren serta membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial.
Barangkali inilah makna tema “Lembaga Berbasis Agama sebagai Ruang Pemberdayaan Masyarakat.” Nilai-nilai agama tidak berhenti sebagai ajaran yang dihafalkan, tetapi menjelma menjadi praktik sosial yang menjawab persoalan nyata. Sehingga pesantren dapat menjadi ruang belajar fikih, tafsir, atau hadis, juga ruang belajar tentang tanggung jawab ekologis, gotong royong, dan keberlanjutan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi check out. Jika pada awal kegiatan peserta diminta menceritakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan, kali ini setiap orang diminta menyebutkan satu kata yang menggambarkan makna sampah setelah mengikuti perjalanan sore itu. Jawabannya beragam: tanggung jawab, peluang, kehidupan, perubahan, hingga harapan.
Bagi penulis, Jalan-Jalan Toleransi sore itu memang telah usai. Namun, perjalanan refleksinya justru baru dimulai ketika meninggalkan Krapyak. Sebab, persoalan sampah ternyata bukan semata tentang ke mana ia dibuang, melainkan tentang sejauh mana manusia bersedia bertanggung jawab atas jejak yang ditinggalkannya.
