DI BALIK JUBAH
I

Di puncak singgasana sabda,
ia memoles kata
dengan lisan berhias firman,
menyela aksara penuh alibi—
tersembunyi dalam semilir kelam,
bagai senja
yang perlahan menelan fajar.
Lapisan kain semu pada tubuhnya
menarik simpati mata,
namun waktu, bak sang penjaga
menjadi saksi yang tak pernah alpa
Ia menjual aksara wahyu
dengan gemerlap fana
menyihir iman
menjadi lelang kesucian
terjerat fatamorgana dunia
Wahai Adam yang meneguk anggur dari telaganya
apakah kau tak tahu—
anggur itu memabukkan?
II
Dahulu suaranya adalah pijar
bak pengantar jiwa menuju kayangan
Kini ia menjelma
rongrongan sunyi di lorong ambisi
menyeruak hampa
di mazbah yang mulai runtuh
Ia tetap melangkah
tanpa arah pasti
bersembunyi di balik tirai
pelataran suci
Tak lagi menapaki sunyi yang jujur
namun berjinjit
di pasar pujian yang riuh
