Beriman di Kolom Komentar

“Beriman di kolom komentar” pada akhirnya adalah ujian kecil dari sesuatu yang besar: apakah iman kita benar-benar hidup, atau hanya tampil? Di era ketika semua orang bisa berbicara, tantangannya bukan lagi keberanian untuk bersuara, tetapi kebijaksanaan untuk memilih bagaimana dan kapan bersuara.

Mungkin ukuran iman di era digital bukan lagi seberapa sering kita berkomentar, tetapi seberapa dalam komentar itu mencerminkan hati yang jujur dan akal yang jernih. Dan kadang, komentar paling beriman adalah yang tidak pernah kita kirim—karena kita tahu, menahan diri juga bagian dari iman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Daftar Pustaka:

Al-Ghazali. Mi‘raj as-Sālikin: Perjalanan Kerohanian Muslim. Kairo: Al-Saqafat al-Islamiyat, 1994.

Agustian, Ginanjar Ari. Emotional Spiritual Quotient: Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga, 2001.

Al-Farabi. Al-Fārābī: Filsafat dan Agama dalam Tradisi Islam Abad Pertengahan. (terjemahan dan antologi karya).

Ibn Sina (Avicenna). The Metaphysics of the “Shifa’”.

Kierkegaard, Søren. Concluding Unscientific Postscript.

Kurniawan, Dwi M. “Iman di Era Digital: Pengaruh Media Sosial terhadap Formasi Rohani Orang Muda Katolik Generasi Z di Malang.” Prosiding Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, 2023.

Majelis Ulama Indonesia (MUI). Fatwa tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Fatwa Nomor 24 Tahun 2017.

 

Tinggalkan Balasan