Beriman di Kolom Komentar

Kierkegaard mungkin akan tersenyum miris melihat bagaimana iman bisa berubah menjadi semacam “challenge”— bukan lagi perjalanan eksistensial, tetapi performa sosial. Padahal, bagi dia, iman sejati justru sering kali tidak terlihat, tidak viral, dan tidak membutuhkan validasi publik.

Tokoh Agama,Media Sosial, Iman

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang bermuamalah melalui media sosial, yang menekankan pentingnya etika, kejujuran, dan tanggung jawab moral dalam berucap secara digital. Fatwa Nomor 24 Tahun 2017 ini pada dasarnya mengingatkan bahwa aktivitas digital bukan ruang bebas nilai—ia tetap berada dalam kerangka moral dan spiritual.

Dengan kata lain, kolom komentar bukan “zona bebas dosa”. Ia lebih mirip ruang publik yang setiap katanya dicatat—jika bukan oleh algoritma, maka oleh nurani.

Banyak tokoh agama juga mengingatkan bahwa media sosial adalah pisau bermata dua: bisa menjadi sarana dakwah, tetapi juga ladang riya’, fitnah, dan konflik. Ada semacam ironi ketika seseorang berdakwah tentang akhlak, tetapi cara menyampaikannya justru melukai orang lain. Ini seperti mengajak orang minum air sambil menyiram mereka dengan bensin—niatnya baik, metodenya perlu ditinjau ulang.

Antara Filsafat dan Praksis

Dari perspektif filsafat, baik Islam maupun Barat, iman yang sah menuntut integrasi antara hati, akal, dan tindakan. Ketika seseorang menulis “Allahu Akbar” sambil menyebarkan kebencian, atau membagikan kutipan sufi sambil merendahkan orang lain, maka imannya berisiko menjadi “iman estetis”: indah di permukaan, tetapi kosong di kedalaman.

Fenomena ini bisa disebut sebagai “spiritualitas kosmetik”—terlihat bersinar di luar, tetapi tidak menyentuh struktur batin. Ia seperti filter media sosial: memperindah tampilan, tetapi tidak mengubah realitas.

Namun demikian, kolom komentar tidak harus selalu menjadi ruang problematik. Ia juga bisa menjadi ruang spiritual yang otentik—jika diisi dengan kejujuran intelektual, kerendahan hati, dan etika dialog. Dalam praktiknya, ini berarti: memikirkan sebelum mengetik (yang sering kali lebih sulit daripada kelihatannya), menahan diri dari reaksi impulsif, mengutamakan klarifikasi daripada asumsi, dan memilih kata yang membangun, bukan meruntuhkan.

Kadang, bentuk iman yang paling kuat di kolom komentar bukanlah menulis panjang lebar, tetapi memilih untuk tidak membalas provokasi. Dalam logika digital, itu mungkin kalah “engagement”. Tapi dalam logika spiritual, itu bisa jadi kemenangan besar.

Dari Jari ke Hati

Tinggalkan Balasan