Tuhan, aku rindu heningmu di antara
keramaian yang jalang
Entah pada ombakmu yang mana
Kuempaskan segala kefanaan
sebab, pada simpang imajinasi
Yang merangkum keluh dan kesah
Nyatanya engkau begitu dekat,
Serupa angin mengurai dingin pada tubuh
Kau kecup keningku dengan dingin cintamu,
akupun menggigil dalam mihrabmu.
Kesepianpun kubangun,
Dalam runcing usia, alifmu tegak
melempar temaram,
Tentang adamu yang tak terbaca.

Napasku suntuk, waktupun suntuk,
Kegagahanpun suntuk,
Segalanya suntuk
Hanya cintamu yang tak bertepi.
Yogyakarta 2018.
Ilustrasi: Perahu Jukung (1975) karya Affandi.
