BERLAYAR

HATI YANG BERKELIT

Di bawah cahaya lampu
Suara riuh terdengar samar
Di antara kelit hati yang meredup
Bayang-bayang jiwa rapuh terkapar

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seperti hari-hari diselimuti mantra-mantra sayup
Sungguh, betapa kerdil hati yang berkelit
Pahit terasa manis, lelah menjadi siasat
Dan perlahan senja waktu dihardik luka
Duhai, akankah hati menjumpai anutapa?

Sumenep 2026.

BERLAYAR

Bismillah
Akulah air mata ibu yang berkelana
Akulah degup ibu yang bergenta
Akulah sabda ibu yang nyala

Bismillah
Akulah doa ibu yang berlayar
Berdayung dengan pena al-mukhtar
Mengarungi samudra tak bertepi
Hinggap di pulau-pulau mimpi

Hai ombak-ombak mutiara
Bisikkanlah padaku tentang makna deburmu yang merdeka
Sebelum aku benar-benar menghamtamnya dengan Musa dan mendamaikannya dengan belai istikharah
Tuhan, di manakah Kau sembunyikan hantu Abu Jahal?
Sebelum gentayangan
Aku ingin membakarnya karena-Mu
Dan aku benar-benar sampai ke pulau cinta-Mu yang satu
Akulah cinta ibu yang menderu
Dan kugenggam rindu yang membiru

Yogyakarta, 2018.

HENINGMU

Tuhan, aku rindu heningmu di antara
keramaian yang jalang
Entah pada ombakmu yang mana
Kuempaskan segala kefanaan
sebab, pada simpang imajinasi
Yang merangkum keluh dan kesah
Nyatanya engkau begitu dekat,
Serupa angin mengurai dingin pada tubuh
Kau kecup keningku dengan dingin cintamu,
akupun menggigil dalam mihrabmu.

Kesepianpun kubangun,
Dalam runcing usia, alifmu tegak
melempar temaram,
Tentang adamu yang tak terbaca.

Napasku suntuk, waktupun suntuk,
Kegagahanpun suntuk,
Segalanya suntuk
Hanya cintamu yang tak bertepi.

Yogyakarta 2018.

Ilustrasi: Perahu Jukung (1975) karya Affandi.

Tinggalkan Balasan