Bermula dari Sastra Pesantren

Menggandrungi Literasi 

Meskipun sejak usia Sekolah Dasar telah menyukai dunia membaca, dan terkadang menulis, tidak bisa memungkiri bahwa pengalaman bersentuhan dengan karya sastra pop pesantren menjadi bagian proses terpenting saya jatuh cinta berkali-kali dengan dunia literasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari pesantren pula saya kemudian belajar menulis artikel. Baik yang bersifat faktual seperti berita, menulis ulang hasil wawancara, maupun esai yang lebih menekankan kedalaman opini. Karena pesantren memberikan fasilitasi terhadap bidang tersebut. Satu di antaranya adalah program pelatihan jurnalistik dasar.

Melalui program ini pula saya kemudian bergabung dalam tim redaksi majalah pesantren. Di sana saya belajar menulis isu-isu tertentu. Isu perempuan, ekologi, hingga Islam Nusantara. Kebiasaan membaca dan menulis yang saya peroleh selama di pesantren menjadi salah satu bekal yang mengantarkan saya hingga dapat menulis artikel sampai saat ini.

Kata salah satu guru saya, menulis adalah bentuk santri meneladan jejak-jejak ulama terdahulu. Ulama adalah penulis. Buktinya adalah kitab-kitab kuning yang hingga kini menjadi rujukan utama pembelajaran di pesantren.

Saya mengamini itu. Bahwa mengabadikan pemikiran dalam tulisan bisa dikatakan menjadi sebuah keharusan. Karena dengan tulisan, gagasan akan tetap abadi. Atau bahkan barangkali menjadi hal yang akan diperdebatkan di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan