Entah mengapa bagi saya membaca sastra pop pesantren menjadi hal yang sangat menyenangkan kala itu. Mungkin karena ceritanya begitu relate dengan santri sehingga rasanya dekat sekali. Imajinasi mengenai jalannya cerita juga terbentuk sebegitu mudah. Sembari membayangkan sudut-sudut pesantren yang dihidupi setiap hari.
Tokoh-tokoh yang tentu saja berputar dari santri, pengurus, ning, gus, ustaz, pak kiai, dan ibu nyai juga membawa kita mudah menyelami transformasi vibes kepesantrenan yang dibawakan oleh penulis.

Adegan-adegan khas pesantren, seperti pinjam meminjam baju, antre kamar mandi sambil ngantuk-ngantuk, tidur di kelas ketika madrasah diniyah hingga pergolakan pertemanan khas pesantren turut menjadi warna dalam novel pop ini.
Dari Cerita ke Film
Belakangan, sastra pop pesantren terbang melalui novel Hati Suhita karya Khilma Anis. Bahkan perjalanan Hati Suhita ini telah sampai pada dunia film dan series. Khilma Anis telah berhasil membawa kisah-kisah kepesantrenan yang dipadukan dengan kentalnya budaya Jawa di depan khalayak ramai. Bukan hanya penikmat buku, namun juga sampai pada penikmat film.
Masih segar diingatan saya ketika kami, saya dan teman-teman di pesantren, bergantian membaca novel Hati Suhita. Barangkali, di pesantren yang berisi ratusan santri, kala itu tidak lebih dari lima orang yang memiliki novel ini. Alhasil, kami membacanya secara bergantian. Membuat sistem antre yang telah kami akrabi.
Bahkan, sebegitu menarik kisah yang dibawakan oleh Khilma Anis membuat salah satu senior saya yang selama hidupnya belum pernah membaca sastra sangat terkesima. Hingga ia merekomendasikan siapapun yang ia temui di pesantren. Menceritakan beberapa bagian dengan binar-binar di muka. Ia menggerakkan upaya untuk mempengaruhi orang-orang untuk membaca Hati Suhita.
