Berteman dengan Kegelapan

Dalam budaya orang tua kita, ketakutan-ketakutan terhadap kegelapan itu dijadikan senjata yang paling ampuh agar kita menuruti kemauan mereka, sekaligus menjadi alat yang paling efektif untuk mengontrol gerak-gerik sang anak. Misalnya melalui cerita-cerita hantu dan berbagai kengerian yang ada di balik kegelapan itu. Terlebih, melalui kisah klenik yang begitu banyak di Indonesia.

Namun, kegelapan juga menyediakan ketenangan. Misalnya, bagi para sufi, kegelapan merupakan salah satu elemen penting. Kegelapan bisa membuat seorang manusia menelisik masuk dalam dirinya yang paling dalam. Dari sana ia bisa mencari arti sesungguhnya dari sebuah kehidupan. Bahkan, junjungan kita Rasulullah juga dengan sadar menyepi ke dalam gua. Berteman gelap dan sunyi selama empat puluh hari sebelum Jibril datang dengan wahyu dari Tuhan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Para penerus kenabian, seperti para wali dan kiai, juga melakukan hal yang sama. Seperti, Syaikh Abdul Qodir Jailani yang lebih memilih hidup di hutan, menyepi (uzlah) dari keberadaan manusia selama berpuluh-puluh tahun, agar menemukan hakikat sebenarnya dalam kehidupan. Bagi mereka yang tak mengerti, kegelapan hanya sebuah tempat di mana mereka kehilangan pandangan, karena mereka terlalu bergantung dengan indra penglihatan.

Tinggalkan Balasan