Meskipun tata tata kelolanya terus diperbaiki, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mendapat sorotan publik dari berbagai kalangan. Ada yang mendesak agar program MBG distop. Ada yang mengusulkan dilakukan perbaikan secara masif dan komprehensif.

Sorotan terhadap pelaksanaan program MBG juga datang kalangan pesantren. Salah dari Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, Jawa Timur, KH Muhammad Musyaffak Fauzi alias Gus Syaffak. Pesantren yang diasuhnya juga mengelola dapur MBG.

Ia menilai tata kelola program tersebut seharusnya lebih mengutamakan jumlah penerima manfaat, bukan lebih memberikan perlindungan terhadap keberadaan dapur-dapur MBG.
Menurutnya, sebenarnya program MBG sangat dirasakan manfaatnya, terutama bagi santri dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Bahkan, di sejumlah pondok pesantren, biaya makan santri relatif terjangkau sehingga bantuan MBG dinilai sangat membantu.
“Terutama bagi santri-santri yang ekonominya pas-pasan, makan Rp 10.000 itu sangat dirasakan manfaatnya. Karena biaya bulanan di Pondok Pesantren Mojosari itu hanya Rp 450.000 sebulan, sudah termasuk uang sekolah, listrik dan lain-lain, juga makan tiga kali,” Kata Gus Syafak belum lama ini.
Ia menjelaskan, biaya bulanan di pondok juga sangat terjangkau. Karena itu, bantuan makanan bergizi, menurutnya, memiliki manfaat besar bagi para santri.
Namun, ia menyoroti mekanisme pendanaan dapur MBG yang lebih banyak memberikan perlindungan kepada pengelola dapur. Ia menyebut, dalam skema yang dipahaminya, pengelola dapur tetap mendapatkan anggaran sekitar Rp 6 juta per hari tanpa melihat jumlah porsi yang dilayani.
