Alih-alih instropeksi diri buat pembenahan diri, netizen Indonesia justru semakin liar. Mereka melakukan scroll mencari akun Microsoft, kemudian menyerang akun tersebut dengan berkomentar dengan nada caci maki, hate speech. Aneh, memang, justru dengan perbuatan tersebut malah mengkonfirmasi dari riset yang dilakukan pihak Microsoft.
Itulah dampaknya jika masih minim life skill. Semua yang ada dipikiran ditambah dengan tersulut emosi langsung keluar tanpa disaring sebelum sharing, tanpa dicek dan direcek, tanpa diverifikasi dan dikonfirmasi

Dari fakta yang telah tergambarkan itu, mari hendaknya menjadi pembelajaran bersama untuk diambil ibrah. Di dunia dengan segala kekompleksitasan digitalisasinya, etika literasi memang harus dipegang dan dipedomani kuat-kuat.
Dalam menanamkan sumber inspirasinya, mari mereguk keteladanan dari para santri. Dalam dunia kepesantrenan, para pengasuh secara kontinu tanpa kenal lelah mendidik menekankan aspek tradisi muwajjahah (face to face) dalam belajar, dan tradisi istinbath (mencari referensi) ke kitab-kitab turats.
Selain menjadi lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pondok pesantren juga memiliki tujuan yang mulia, yakni mendulang generasi insan al-kamil. Dalam pelaksanaanya, para kiai memberikan brainwash santri untuk selalu menggiatkan tafakkarun, ta’qilun, dan tadabbur. Tidak hanya fokus pada ranah kognitif, tapi menyentuh juga pada ranah afektif dan psikomotorik. Para santri juga ditekankan untuk mempunyai moral, perilaku budi pekerti luhur, serta berkeadaban.
Semua santri dididik secara langsung oleh para kiai dalam mencari Ilmu. Hal ini tentu yang bikin terkesima karena dengan inilah ilmu mampu didapat secara langsung dari gurunya dengan sanad yang jelas. Di sisi lain juga, para santri senantiasa mutholaah dari kitab-kitab turats. Kitab-kitab ini merupakan kitab kredibel yang telah ditulis oleh ulama-ulama terdahulu dengan kompetensi dan keahlian yang tidak perlu diragukan lagi.

Kereen,.. Branding Kaum Santri Lewat Literasi.. Setuju..
Nggeh, Matur nuwun …