Rupanya jiwa kesastrawanannya ternyata lebih kuat. Dua novel biografi tentang pahlawan nasional KH HZ Musthafa dari Pesantren Sukamanah serta KH A Wahab Muhsin yang merupakan gurunya sewaktu nyantri di Pesantren Sukahideng, ternyata lebih dulu rampung ditulis ketimbang disertasi. Baru setelah disertasi selesai, dua novel biografi tentang KH Choer Affandi dari Pesantren Manonjaya diselesaikannya.
Yang menggembirakan, novel Syahadah Musthafa (2020) dan Cahaya Muhsin (2020) bukan hanya mendapat sambutan para santri dan alumni kedua pesantren, namun juga dari pesantren-pesantren lain. Dicetak masing-masing 8000 eksemplar dan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk terjual habis.

Masa pandemi rupanya membawa berkah tersendiri bagi Fauz Noor. Selama tahun 2021, kerika keadaan masih jauh dari normal, ia menulis terus dan menyelesaikan dua jilid novel Pembuka Hidayah dari tiga jilid yang direncanakan. Novel biografi tentang kiai dari Manonjaya ini penjualannya lebih dahsyat lagi karena menggunakan jaringan alumni dan cabang-cabang pesantren Miftahul-Huda yang tersebar luas di Indonesia.
Seperti biasa, novel dicetak pertama sebanyak 8000 eksemplar dan langsung terserap. Sekarang sudah dicetak untuk yang kedua kalinya.
Untuk novel-novel biografi ini, Fauz Noor tidak memakai penerbit mayor, namun menggunakan penerbit indie yang dikelola sendiri, yakni Sabda Books. Khusus untuk novel Pembuka Hidayah, pemasarannya bekerja sama dengan ikatan alumni pesantren.
Kritik Sastra
Ketika Asep M Tamam menceritakan nama-nama penulis Tasikmalaya beserta judul novel-novelnya yang sudah terbit, saya lebih mengapresiasi dari sisi kegigihannya sebagai mentor dalam memotivasi serta menyemangati anak didik dalam menjalani proses penulisan. Sekilas mungkin saya sudah bisa menebak atau membayangkan jenis seperti apa novel-novel yang mereka tulis itu, yang tentunya tidak akan jauh dari jenis novel-nopel pop biasa. Hanya latarnya saja yang berbeda, yakni latar kehidupan pesantren.
Tapi pandangan saya ini mungkin sudah kurang relevan bagi perkembangan sastra, khususnya novel, sekarang ini. Saya tidak tahu bagaimana mereka belajar, bagaimana mereka menyerap informasi, bagaimana mereka menjelajah berbagai kemungkinan dengan acuan novel-novel dari luar. Saya memang tidak melihat karya-karya mereka dipublikasikan terlebih dahulu di koran atau majalah, dan tahu-tahu sudah terbit.
Situasi dan kondisi sekarang sudah jauh berubah. Media cetak kondisinya sudah tidak seperti dulu lagi. Dengan demikian, mengapreasi mereka juga butuh cara pandangan baru.
Novel Pancar karya Fuad Hisyamudin sepintas seperti novel pop biasa yang bernuansa motivasi. Namun, secara tidak langsung kita juga terpesona oleh gambaran tentang perjalanan anak pesantren yang memasuki kehidupan modern. Kehidupan dan suasana di Negeri Sakura berhasil digambarkan dengan baik dan detail, dan tentu saja untuk hal ini dibutuhkan riset yang serius dan seksama. Menurut Fuad, novel yang diterbitkan secara indie ini lumayan banyak terjual lewat jaringan komunitas di darat, di samping jaringan online di udara.
Dalam kaitannya dengan kritik sastra, saya bayangkan hal-hal seperti di atas perlu menjadi bahan pertimbangan. Menilai novel-novel dari generasi sekarang ini tidak cukup hanya dari teks, dari tema atau alur, dari konvensional atau kontemporer. Pembaca juga harus menjadi pertimbangan, kenapa sebuah novel sangat disukai dan kenapa novel lain yang sejenis justru malah tidak laku.
Pembaca sekarang semakin banyak yang cerdas, kritis, dan tak sedikit yang menguasai bahasa asing, termasuk pembaca dari kalangan pesantren juga. Dengan demikian, kita akan lebih terbuka melihat kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan sebuah novel, dan tidak berhenti pada kasus novel pop versus novel serius. Tapi bagaimana respons pembaca, yang saya yakin bukan hanya ikut-ikutan tertarik dan membeli sebuah buku.
Sebagai saran untuk Balai Bahasa Bandung yang mengadakan penelitian dan penulisan kritik sastra, apa yang saya paparkan di atas bisa menjadi bahan pertimbangan. Setiap wilayah di Jawa Barat tentu mempunyai karakter dan kondisi yang berbeda satu sama lain. Di Tasikmalaya sendiri, misalnya, baru belakangan ini novel-novel marak ditulis dan dibeli pembaca. Dan menurut saya ini cukup menarik untuk ditelisik lebih jauh.
Sementara di Kuningan, wilayah lain di Jawa Barat, beberapa novel dengan latar sejarah dan masa depan Kuningan itu sendiri sudah terbit lebih duluan, tentu saja dengan strategi pemasaran dan jaringan pembaca yang berbeda dengan Tasikmalaya. Pandu A Hamzah, yang mengelola Penerbit Silalatu, lebih cenderung membidik jalur sekolah dan kampus dalam pemasarannya dengan mengadakan acara-acara yang sifatnya apresiatif di kalangan siswa dan mahasiswa.
